Februari 27, 2021

3 KKB OPM Batal dan Tidak Berani Turun Gunung karena posisi mereka semakin lama semakin terjepit

kabarmandala.com — 3 KKB OPM Batal dan Tidak Berani Turun Gunung, Hingga Mabes Polri Sebut Tidak Ada Namanya HUT OPM. Papua relatif aman saat HUT OPM 1 Desember 2019. Tidak ada gejolak maupun teror seperti yang dikhawatirkan sebelumnya. Bahkan tidak ada pengumpulan massa dalam jumlah seperti ajakan yang beredar sebelum 1 Desember.

Ajakan berkumpul bersama ini beredar di media sosial yang umumnya dimotori United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) pimpinan Benny Wenda yang kini menetap di Oxford Inggris. Namun ajakan ini tak terlaksana. Sebab Aparat Polres Jayapura mengamankan 34 orang yang diduga akan memperingati HUT Organisasi Papua Merdeka ( OPM) pada Sabtu (30/12/2019) malam.

Dari mereka, polisi mengamankan beberapa barang bukti berupa atribut Komite Nasional Papua Barat (KNPB) dan bintang gejora. “Mereka ditengarai membawa atribut dan Sajam (senjata tajam), kemudian dicegat oleh anggota dan ditemukan ada sejumlah atribut KNPB yang mereka bawa,” kata Kapolda Papua Irjen Polisi Paulus Waterpauw di Jayapura, Minggu (1/12/2019).

Dalam penangkapan sekitar pukul 21.40 WIT tersebut, aparat juga mengamankan sejumlah senjata tajam. Saat ini, ke-34 orang tersebut masih diamankan di Polres Jayapura dan petugas tengah mendalami kasus tersebut. “Sekarang mereka sedang dimintai keterangan oleh Polres Jayapura,” kata Waterpauw.

Terbaru dari 34 orang yang diamankan petugas Polres Jayapura pada Sabtu (30/11/2019) malam, polisi telah menetapkan 20 orang menjadi tersangka. “Ada 20 orang ditetapkan sebagai tersangka, tuntutannya adalah makar (106) dan juga membawa alat sajam enam buah (UU Darurat),” ujar Kapolres Jayapura AKBP Victor Dean Mackbon saat dihubungi melalui telepon, Senin (2/12/2019).

Penyidik, sambung Victor, terus berusaha mendalami kasus tersebut untuk mengetahui siapa penggerak mereka. Dari 20 tersangka, polisi juga memastikan LK sebagai kordinator massa yang ikut ditangkap. “Tujuan mereka mau ke Kota Jayapura untuk mengikuti upacara, padahal tidak ada upacara tersebut. Kemungkinan ada kelompok lainnya,” kata dia.

Sedangkan untuk 14 orang lain yang sebelumnya diamankan, Victor menyebut mereka telah dipulangkan. Selain karena tidak cukup bukti, mereka juga diketahui masih berstatus sebagai pelajar. “Dari 14 yang dipulangkan karena tidak cukup bukti, di antaranya juga anak-anak sekolah, jadi kami pulangkan supaya mereka bisa sekolah,” tuturnya.

Selain itu, petinggi ULMWP yang akan menggerakkan massa juga diciduk polisi. Kepolisian Resort Kota Jayapura memeriksa Markus Haluk, Direktur Eksekutif United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) selama enam jam dengan 39 pertanyaan di Polres kota Jayapura, pada Sabtu, 30 November 2019.

Gustaf Kawer anggota tim kuasa hukum usai mendampingi proses pemeriksaan mengatakan Markus Haluk ditanya sebanyak 39 pertanyaan seputar Seruan Doa Bersama tanggal 1 Desember 2019. Penyidik juga menanyakan statusnya dalam organisasi ULMWP, teknis surat menyurat dalam ULMWP hingga hubungan koordinasi ULMWP di Papua dan di luar negeri.

Kata Kawer, usai menjalani pemeriksaan Markus Haluk menandatangani Surat Klarifikasi. Surat Klarifikasi diserahkan ke Kapolresta dan selanjutnya akan dipertimbangkan. Haluk menjalani pemeriksaan didampinggi Mama Yosepa Alomang dan Tim Hukum dari Koalisi Penegakan Hukum dan HAM Papua.

Selaian tidak ada pengumpulan massa, TNI/Polri juga berhasil menggagalkan aksi kelompok kriminal bersenjata ( KKB), yang sebelum berencana turun gunung untuk membuat kekacauan. Bahkan KKB terendus sempat berusaha memasuki Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua.

“Sebelumnya memang ada yang berusaha masuk ke wilayah Wamena dan ada beberapa isu maupun informasi kalau mereka berusaha masuk Kota Wamena dan akan membuat keributan,” ujar Komandan Kodim 1702/Jayawijaya Letkol Inf Candra Dianto saat dihubungi, Senin (2/12/2019).

Menurut dia, yang mencoba masuk ke Wamena berasal dari beberapa kelompok separatis di beberapa kabupaten sekitar Jayawijaya. Usaha KKB masuk ke Wamena juga melalui berbagai jalur, sesuai tempat mereka berasal. “Ada beberapa pintu masuk ke Wamena yang coba KKB lalui, seperti di jalur Habema, Pelebaga, Gunung Susu, Muai, Kuburan Lama dan Kimbim. Ini sudah kita antisipasi,” kata Candra.

Menurut informasi, kelompok tersebut merupakan KKB dari Puncak Jaya, Lanny Jaya dan Ndugama. Informasi mengenai upaya KKB masuk ke Wamena, menurut Candra, berasal dari berbagai sumber, mulai dari intelijen hingga laporan dari masyarakat. Dari laporan-laporan tersebut, aparat gabungan TNI-Polri mengambil langkah antisipasi dengan memperketat penjagaan di sejumlah titik.

“Kita sudah mengantisipasi dan melakukan gelar pasukan secara besar-besaran, sekitar 1.700 personel TNI-Polri. Kita juga melakukan patroli dengan diikuti kendaraan taktis Anoa dan kendaraan TNI-Polri yang ada di Wamena,” tutur Candra.

Patroli dan unjuk kesiapan dilakukan untuk menunjukan kepada masyarakat bahwa TNI dan Polri siap bertugas menjaga keamanan di Wamena. “Sekitar H-5 dan H-4 dari 1 Desember, ada beberapa informasi mereka (KKB) akan coba masuk. Namun karena kesiapan TNI-Polri, sampai saat ini mereka tidak berani masuk,” kata Candra.

Meski KKB sempat berupaya masuk ke Kota Wamena, tidak terjadi kontak fisik secara langsung antara mereka dengan aparat keamanan pada 1 Desember 2019. “Satgas TNI yang sudah disiagakan di beberapa titik berhasil menghalau pergerakan KKB, meski tidak pernah ada kontak senjata,” kata Candra.

Mabes Polri memastikan tidak ada yang namanya perayaan berarti saat hari ulang tahun (HUT) Organisasi Papua Merdeka (OPM) pada 1 Desember 2019. Demikian disampaikan Karopenmas Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Argo Yuwono di Rumah Sakit (RS) Polri, Jakarta, Senin (2/12/2019).

“Jadi di Papua tidak ada perayaan ya, tidak ada perayaan ultah OPM. Kemarin sudah mendengar evaluasi dari Kapolda Papua situasinya kondusif,” kata Brigjen Pol Argo Yuwono. Menurut Argo Yuwono, hal tersebut tidak terlepas dari upaya polri bersama TNI dengan melakukan berbagai kegiatan preventif di Papua.