Desember 1, 2020

Andy Ayamiseba, salah satu aktivis Papua Merdeka dan Mantan Manajer Black Brothers Meninggal Dunia

kabarmandala.com — Andy Ayamiseba salha satu aktivis The United Liberation Movement for West Papua atau yang sering di sebut Organisasi Papua Merdeka, meninggal dunia di Canberra, Asutralia, Jumat (21/2/2019). Kabar meninggalnya Andy Ayamiseba menghiasi halaman media sosial teman-temannya, seperti yang dituliskan akun fanspage Facebook Humans of Vanuatu.

“Andy Ayamiseba. West Papua international activist and Vanuatu citizen. RIP. Selamat jalan,” tulisnya, Sabtu (22/2/2019). Andy Ayamiseba meninggal dunia karena menderita kanker. Keluarganya pun sempat meminta donasi di situs crowdfunding Gofundme, untuk biaya pengebatan Andy Ayamiseba. Andy Ayamiseba lahir di kota Biak, 21 April 1947 dari pasangan Dirk Ayamiseba dari Papua dan ibunya Dolfina Tan Ayomi keturunan Tionghoa. Ayahnya, Dirk Ayamiseba pernah menjadi Gubernur pertama di Papua dan Ketua DPRD-GR pertama. Namun ideologi Andy dan ayahnya tidak sejalan. Andy memilih ikut berjuang bersama para aktivis Papua merdeka untuk melepaskan Papua dari NKRI. Andy sangat intens terlibat bersama faksi-faksi pendukung Papua merdeka di Vanuatu.

Andy dan lima orang rekannya yang lain sesama pengusung ideologi Papua merdeka pernah mewakili Papua ke Noumea, ibukota negara New Caledonia menghadiri upacara pembukaan The 19th Melanesian Spearhead Group (MSG) Leaders Summit pada 2013 lalu.  Andy Ayamiseba adalah sosok dibalik lagu-lagu lawas yang hits di era 1970, yaitu ‘Kisah Seorang Pramuria’ dan ‘Mutiara Hitam’. Lagu-lagu ini dipopulerkan oleh grup musik Black Brothers dari Tanah Papua yang dibentuk oleh Andy Ayamiseba.

Saat itu personil Black Brother yaitu Benny Betay (bass), Jochie Phiu (keyboard), Amry Tess (trompet), Stevie MR (drums), Hengky Merantoni (lead guitar), Sandhy Betay (vokal), Marthy Messet (lead vocal), Agus Rumaropen (vokal) dan David (saxophone), sedangkan Andi Ayamiseba berperan sebagai Manajer band.

Kehadiran Black Brothers di ibukota cukup mendapat tempat saat itu di hati pecinta musik Indonesia. Banyak produser ternama yang mengikat kontrak dengan grup musik ini.Tetapi setelah Andy Ayamiseba mulai ikut dalam politik Papua Merdeka, ketenaran Black Brother pun perlahan turut meredup di Indonesia.

Sekitar tahun 1980 mereka pun meminta suaka politik di Negeri Belanda. Kemudian tahun 1983 grup ini hijrah ke Vanuatu atas undangan pemerintah Vanuatu yang saat itu dipimpin Presiden Walter Lini dan Barak Sope. Kabarnyanya, Black Brothers punya peran khusus dalam memberikan dukungan lewat musik untuk mendirikan negara di Pasifik Selatan itu. Kedekatan Andy dengan Barak Sope membuat Andy ikut marasakan dampak kejatuhan Walter Lini dari kursi kepresidenan tahun 1988 akibat mosi tidak percaya dari rakyat Vanuatu.Ia dideportasi dari negara Vanuatu. Group musik Black Brothers pun tercerai berai. Personilnya ada yang tinggal di Vanuatu dan sebagian lagi tinggal di Australia.

Setelah tak bersama Black Brother lagi, ia mencoba kembali ke Vanuatu tahun 1990-an setelah namanya dihapus dari daftar imigran terlarang di negeri itu. Ia melakukan beberapa kunjungan ke Vanuatu dengan dokumen perjalanan yang disediakan oleh pemerintah Australia. Ia pun membujuk pemerintah Vanuatu mendukung gerakan kemerdekaan Papua Barat. Ia mengisi hari-harinya dengan usaha dagang eksport-impor dan terus menjalin hubungan dengan faksi-faksi pendukung Papua merdeka di Vanuatu.

Atas pelanggaran urusan dagang, Andy pernah dideportasi ke negara Kepulauan Solomon oleh pemerintah Vanuatu pada 9 Pebruari 2006. Namun pihak imigrasi Solomon menolak Andy masuk ke negera itu. Andy kembali dimasukan ke dalam pesawat yang kemudian mengantarnya ke Australia, namun Andy ditolak oleh pihak imigrasi Australia yang kemudian mengirimnya kembali ke Vanuatu tanggal 10 Pebruari 2006.

Pada 14 Mei 2012 lalu mantan manajer Black Brothers ini pernah ditangkap karena melakukan protes kepada pemerintah Vanuatu tanpa izin yang sah. Andy memprotes kebijakan Pemerintah Vanuatu menjalin kerjasama latihan militer dengan pihak Indonesia. Andy menolak kedatangan pesawat militer Vanuatu yang membawa 100 unit komputer, sebagai bagian dari perjanjian kerja sama yang ditandatangani pemerintah Indonesia dan Vanuatu.