Februari 26, 2021

Bak pepatah mengatakan tangan kanan madu dan tangan kiri racun, itulah tantangan penyelesaian masalah Papua

kabarmandala.com — Semua orang tahu, Papua masih bermasalah! Berbagai niat baik dan usaha keras untuk menyelesaikan masalah itu terus berlangsung seiring perjalanan waktu dan peredaran planet bumi mengitari Matahari. Usia dari masalah ini tidak sebanding umur hidup manusia. Masalah tidak mengenal batas waktu dan tempat, sedangkan umur hidup manusia, 80 tahun jika kuat, dan itu pun sangat bergantung sepenuhnya pada rencana dan kehendak Sang Pencipta – Tuhan Yang Maha Kuasa! Proses penyelesaian masalah Papua, bagaikan “madu di tangan kanan – racun di tangan kiri”.

Dalam upaya menyelesaikan masalah Papua yang sangat rumit dan kronis ini, nilai-nilai kehidupan seperti: kejujuran, kerendahan hati, kehati-hatian, tidak saling curiga, kesabaran, ketabahan dan hikmat kebijaksanaan haruslah tetap menjadi “Panglima”nya. Apabila kita tidak setia pada “panglima” ini di dalam seluruh proses penyelesaian masalah Papua, maka kehancuran disusul tragedi kemanusiaan yang sangat mengerikan menanti kita di ujung lorong yang gelap itu – Kalah jadi abu – menang jadi arang!

Perbedaan: Fakta yang harus Dihargai

Sejarah hidup manusia Papua mencatat bahwa perbedaan di Tanah Papua merupakan keniscayaan – sebuah anugerah yang harus disyukuri dan dirawat bagaikan bunga-bunga berjuta warna mengharumi kehidupan, sebaliknya bukan sebuah kutukan!. Sudah sejak sekitar lima puluh ribu tahun yang lampau, nenek moyang manusia Papua itu sudah berbeda. Ketika gelombang pertama nenek moyang orang Papua datang dari Afrika tiba di kepulauan New Guinea, telah diketahui ada kelompok manusia Papua yang bermata pencaharian berburu binatang dan mengumpulkan (meramu) bahan makanan. Mereka mendiami wilayah dataran tinggi (Kal Muller, “Mengenal Papua” hal.35-56).

Menyusul kelompok nenek moyang manusia Papua gelombang kedua datang ke Papua pada sekitar 1500-1000 SM. Mereka mendiami dataran rendah – pesisir utara daratan Papua, pesisir Kepala Burung, Teluk Cenderawasih dan Teluk Bintuni. Mereka mengonsumsi sumber makanan yang terdapat di areal rawa-rawa mangrove, ikan laut dan kerang. Kelompok nenek moyang Papua gelombang kedua ini memiliki budaya rumah panggung, pembuatan dan penggunaan gerabah, penggunaan layar dan cadik.  Setiap kelompok masyarakat yang tergambar di atas mengonsumsi sumber makanan yang tersedia di lingkungan dimana mereka hidup dan berada. Cara untuk mendapatkan bahan

makanan pun berbeda satu dengan yang lain, serta berbeda pula dalam cara “menantang” dan “menaklukkan” alam sekitanya. Lingkungan dimana mereka hidup dan menghidupi diri dan kelompoknya, tentu saja dengan serta merta ikut membentuk karakter (tabiat), tradisi dan budayanya masing-masing. Setiap kelompok manusia ini memiliki cara tersendiri dalam memandang, menilai, menyikapi dan menyelesaikan masalah yang dihadapi bersama.

Pada tahun 1961, Pemerintah Hindia Belanda bersama para antropolog Barat membagi wilayah dan masyarakat Papua ke dalam tujuh wilayah adat. Di Tanah Papua terdapat wilayah adat Mamta, Saereri, Anim Ha, La Pago, Mee Pago, Domberai dan Bomberai.

Wilayah-wilayah adat ini digunakan untuk mengelompokkan suku-suku di Tanah Papua. Konsep pembagian suku didasarkan atas hubungan kekerabatan, perkawinan, hak ulayat, tipe kepemimpinan, ciri-ciri fisik hingga geografis. Pemerintah Belanda dan ilmuwan Barat kemudian membuat konsep pembagian wilayah administrasi pemerintahan berdasarkan fakta budaya ini. Setiap kelompok masyarakat diatas tentu berbeda dalam karakter masing-masing yang mempengaruhi cara mereka menghadapi permasalahan hidup dan pula cara menyelesaikan masalah bersama.

Pembagian wilayah adat ini disusul pembagian wilayah adminsitratif Nugini – Belanda yang tentu saja didasarkan atas pertimbangan tradisi dan budaya dari masing-masing kelompok masyarakat tersebut. Terdapat Afdeling Hollandia (terdiri atas antara lain Hollandia, Nimboran, Sarmi, Keerom), Afdeling Geelvinkbaai (antara lain Biak, Yapen-Waropen, Serui), Afdeling Centraal-Nieuw – Guinea (antara lain Paniai dan Tigi), Afdeling Zuid-Nieuw-Guinea (antara lain Merauke, Mapi, Boven Digul, Asmat, Muyu), Afdeling Fak-Fak (antara lain Fak-Fak, Kaimana, Mimika) dan Afdeling West-Nieuw-Guinea (Sorong, Raja Ampat, Manokwari, Ransiki, Teminabuan dan Bintuni).

Pada hari ini juga, kita menyaksikan secara terang benderang, Tanah Papua teridiri atas Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat. Pemerintah Indonesia berencana akan memekarkan lagi beberapa provinsi di Tanah Papua. Dalam konteks urusan pemerintahan tingkat provinsi, maka masyarakat dan pemerintah Provinsi Papua mengatur sendiri seluruh proses pembangunannya. Hal yang sama terjadi juga di Provinsi Papua Barat. Mereka masing-masing mengatur “rumah tangganya” sendiri di bawah pendampingan Pemerintah Pusat di Jakarta.