Desember 1, 2020

Buah Merah Mampu Meningkatkan Kekebalan Tubuh Manusia

kabarmandala.com — Buah merah atau Pandanaceae conoideus adalah sejenis pandanus endemik Papua. Buah merah bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kekebalan tubuh untuk melawan infeksi patogen, termasuk virus corona baru, Covid-19.  Buah endemik Papua ini banyak mengandung antioksidan dan beta karoten. Tidak hanya itu, omega 3 dan 9, serta banyak zat lain yang meningkatkan daya tahan tubuh juga terkandung di dalamnya.

Buah merah sudah lama dikonsumsi masyarakat Suku Dani di Lembah Baliem, Kabupaten Jayawijaya, Papua. Buah merah dalam bahasa Dani disebut kuansu. Buah tersebut dianggap terbukti membebaskan mereka dari berbagai penyakit. Buah merah mengandung anti oksidan alami yang tinggi, serta berbagai vitamin dan zat seperti karoten 12.000 ppm, beta karoten 700 ppm, tokoferol 11.000 ppm yang berperan aktif untuk meningkatkan stamina dan sistem kekebalan tubuh.

Selain itu ada beberapa zat lain dalam Pandanaceae conoideus yang meningkatkan daya tahan tubuh. Yaitu asam oleat, asam linoleat, dekanoat, omega 3 dan omega 9. Semuanya disebut senyawa aktif penangkal terbentuknya radikal bebas dalam tubuh. Buah Merah termasuk familia Pandanaceae dapat ditemukan dari dataran rendah sampai tinggi di Papua yang tersebar hingga Papua Nugini. Diperkirakan lebih dari 30 varietas buah ini dapat dijumpai di Papua, masing-masing dengan nama yang berbeda untuk tiap karakter buah dan tiap daerah.

Misalnya, buah merah asal Distrik Kelila, Mamberamo Tengah, mempunyai nama lokal yang berbeda merujuk pada ukuran, warna buah, warna daun, dan rasa. Meski demikian, secara garis besar hanya empat varietas yang banyak dikembangkan karena memiliki nilai ekonomis, yaitu kultivar merah panjang, merah pendek, cokelat dan kuning. Tumbuhan buah merah memiliki bentuk menyerupai pandan dengan tinggi mencapai 16 meter. Tinggi batang bebas cabang setinggi 5-8 meter, ditopang dengan akar tunjang. Adapun buahnya berbentuk lonjong dengan kuncup yang tertutup daun buah.

Buah ini diperkirakan mulai dibudidayakan di Lembah Baliem sekitar 7000 tahun yang lalu, hal ini berdasarkan penelitian ahli Australia, Haberle yang meneliti di rawa Kelila, Lembah Baliem barat. Haberle melakukan pertanggalan pada sampel serbuk sari pandanus dari sedimen rawa Kelila.