Oktober 30, 2020

Edisi hari pahlawan : Mengenang jejak dua pahlawan asal Serui

kabarmandala.com — Salah satu kabupaten yang menarik jika ditelusuri lebih dalam di Papua adalah Kabupaten Kepulauan Yapen. Sebab kabupaten dengan ibukota Serui ini memiliki dua jejak sejarah bangsa Indonesia yang belum terekspos baik dan terkesan terlupakan. Dua jejak sejarah itu adalah situs: rumah pribadi Silas Papare dan rumah pengasingan Dr. Sam Ratulangi, keduanya adalah pahlawan nasional Indonesia.

Jejak sejarah pertama, tokoh Silas Papare. Walau namanya tak sebesar Jenderal Soedirman, tapi perjuangannya dalam membela bangsa tak boleh diragukan. Lelaki kelahiran Serui Papua, 18 Desember 1918 itu dengan gigih berjuang menyatukan Irian Jaya (kini Papua) ke dalam wilayah Indonesia dari cengkeraman kolonial Belanda.

Di kediaman yang berada di Jalan Palapa, Distrik Yapen Selatan, Serui, Kabupaten Kepulauan Yapen, hanya tersisa rumah yang pernah ditinggali olehnya bersama keluarga yang juga dijadikan tempat berunding untuk perjuangannya.

Tapi disayangkan, kediamannya kini terlihat usang dan tak terawat, hanya ada sebuah papan nama: J. A. Papare yang masih terlihat jelas. J.A. Papare merupakan adik kandung Silas Papare, yang juga mendapatkan penghargaan dari pemerintah Republik Indonesia sebagai pejuang.

Rumah ini masih terlihat sisa sejarahnya, yakni dari bentuk ubin peninggalan Belanda, terus pondasi rumah jaman dulu, serta dokumen-dokumen penting berupa sejarah Silas Papare bersama sang adik ketika bertemu dengan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.

Sudah 41 tahun lewat, pejuang Indonesia Silas Papare meninggalkan kenangan sebagai pemuda Papua yang menginspirasi. Makamnya yang berada di Taman Makam Pahalwan Serui hanya dikunjungi ketika hari-hari besar saja. Sedangkan sejarah semangat juangnya tak tergaung lagi.

Walau kadang beberapa anak sekolah menyempatkan mampir ke rumah bersejarahnya itu, hanya sekadar memenuhi tugas sekolah. Bahkan saat ditanyakan kepada 10 anak sekolah setingkat SMA, hanya empat orang diantaranya tahu lokasi rumah pahlawan nasional asal Papua, Silas Papare itu.

Salah satu keponakan Silas Papare, Agustinus Papare berharap pihak pemerintah dapat melirik dan memperhatikan rumah bersejarah milik Silas Papare itu, agar mampu menyisakan aura semangat juang kepada generasi muda berikutnya.

“Saya harapkan pemerintah mau sama-sama membuat lokasi ini dikenal lebih dalam lagi oleh generasi muda Indonesia, khususnya generasi muda Papua. Inilah kediaman Silas Papare yang menjadi saksi lahirnya jiwa semangat juang pemuda Papua (Irian Jaya saat itu) untuk kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia,” jelas Agustinus, Sabtu, 9 November 2019.

Rumah Pengasingan Dr. Sam Ratulangi

Jejak sejarah kedua di Serui, yakni Dr. Sam Ratulangi. Nama sang pahlawan ini sering diabadikan sebagai nama jalan. Rumah pengasingan Dr. Sam Ratulangi di Serui berada di pinggir Alun-Alun Kota Serui, nampaknya hanya sebatas diketahui lokasinya. Sementara sejarah yang tertera dari rumah pengasingan itu jarang diketahui. Bahkan terkesan terlupakan.

Rumah yang berada di atas tanah seluas kurang lebih 300 meter per segi itu menjadi saksi sejarah, bagimana Dr. Sam Ratulangi atau bernama lengkap Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi asal Minahasa, Sulawesi Utara yang diasingkan Belanda ke Serui pada tahun 1946.

Rumah pengasingan Dr. Sam Ratulangi nampak masih terawat dengan baik, meskipun saat ini sudah ditempati oleh pemilik tanah dari rumah itu. Menurut  Edy Maipon, selaku pemilik tanah situs rumah pengasingan Dr. Sam Ratulangi mengungkapkan, hanya lukisan, foto dan beberapa dokumen sejarah yang tersisa.

“Sudah banyak yang rusak, kami berusaha menjaganya. Tapi beberapa hal tak terlalu didukung pemerintah setempat. Padahal kami ingin terlibat untuk menjadikan situs ini menjadi lokasi sejarah dan wisata. Kami juga tak menutup siapa saja yang ingin mampir berswafoto dengan situs yang tersisa ini,” jelas Edy.

Bentuk bangunan rumah pengasingan Dr. Sam Ratulangi itu masih terlihat seperti dulu. Bahkan sumur tua yang ada rumah itu belum terlalu banyak diubah. Tapi sangat disayangkan, lokasi yang berada di pusat Kota Serui itu hanya terkesan sekadar “pajangan” pinggir kota.

Sebab tak terlihat, jika rumah ini dulunya digunakan sang pahlawan menularkan ilmu pengetahuannya kepada sejumlah pemuda Serui, salah satunya Silas Papare. Dr. Sam Ratulangi dulunya dikenal pejuang pendidikan di tanah Serui. Itulah dua situs sejarah yang ada di Kota Serui, ibukota Kabupaten Kepulauan Yapen. Tapi sayang kedua situs sejarah ini belum mendapat perhatian lebih dari instansi terkait. Padahal seperti ucapan sang proklamtor, Soekarno: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya”.