Januari 17, 2021

Fakta Dibalik Kejanggalan Peristiwa Penembakan 2 Pelajar Di Ilaga

Kabarmandala.com – Peristiwa penembakan dua pelajar yang diduga dilakukan oleh Orang Tak Dikenal (OTK) terjadi pada Jumat (20/11/2020), saat kedua pelajar hendak menuju Distrik Agandume, Kabupaten Puncak, Papua, menambah sederet daftar korban penembakan di Papua.

Kedua pelajar yang menjadi korban adalah Atanius Murib dan Manus Murib. Atanius Murib siswa pelajar SMA Ilaga tewas ditempat kejadian, sementara Manus Murib pelajar SMK Gome berhasil selamat dan dibawa ke Puskesmas Ilaga oleh warga disekitar tempat kejadian.

Berdasarkan kesaksian korban sebelum diterbangkan ke RSUD Timika, mengatakan bahwa mereka ditembak dari tempat yang lebih tinggi. Tembakan itu mengenai Atanius dan Manus. Atanius meninggal di lokasi setelah kepalanya ditembus peluru. Sedangkan Manus juga mengalami luka tembak, lalu ia berpura-pura mati.

Setelah itu Manus dengan sisa tenaganya, ia berlari dan ditolong warga di Kampung Jakimaki. Oleh warga setempat, Manus dibawa ke Puskemas Ilaga untuk mendapat pertolongan medis atas luka yang dialaminya. Dia tiba di Puskesmas Ilaga sekitar pukul 18.00 WIT dengan diantar warga.

Namun demikian dari kesaksian korban ditemukan beberapa kejanggalan dari kejadian penembakan terhadapnya, diantaranya.

Pertama, Manus menyampaikan bahwa jarak yang ditempuh dari TKP ke Puskesmas Ilaga selama 6 jam dengan berjalan kaki, hal tersebut membuat warga terheran-heran, pasalnya menurut warga perjalanan dari TKP menuju Puskesmas Ilaga biasanya ditempuh selama 12-15 jam dengan berjalan kaki.

Kedua, Sebelumnya berdasarkan pengakuan Manus Murib terkena luka tembak sehingga dilarikan ke RSUD Timika. Akantetapi setelah dilakukan pemeriksaan di RSUD Timika, tidak ditemukan bekas luka tembak pada korban, hasil Visum Et Repertum pada hari Senin (24/11), menunjukan bahwa ditemukan luka robek pada leher bagian depan, luka lecet pada bibir bagian bawah dan patah tulang pada bagian rahang bawah. Luka pada rahang di duga bukan akibat dari luka tembak melainkan terbentur benda tumpul.

Ketiga, korban dibawa keluar dari RSUD Timika atas permintaan keluarga pada Senin (23/11) dengan kondisi stabil. Sehingga penyelidikan kasus ini semakin sulit untuk diselidiki karena korban sulit untuk diajak berkomunikasi.

Empat, sulitnya mendapat keterangan dari korban karena aparat keamanan tidak diperbolehkan oleh pihak keluarga untuk meminta keterangan dari korban, sementara keterangan dari korban akan sangat berguna untuk proses penyelidikan lebih lanjut.

Dari kejadian ini Bupati Puncak Wilem Wandik sempat angkat bicara bahwa diharpakan korban selamat memberikan informasi yang sebenarnya.

“Saya berharap korban selamat ini dapat memberikan informasi yang sebenarnya, sehingga tak ada lagi musuh dalam selimut dan dalam kejadian ini harus ada pihak yang bertanggung jawab,” harapnya.