Januari 16, 2021

Fakta Serangan KKB di Distrik Yal, Alat Berat Dibakar hingga KKB Sebar Propaganda

Kabarmandala.com – Aksi teror Kelompok Kriminal Bersenjata ( KKB) terjadi di Distrik Yal, Kabupaten Nduga, Papua, Rabu (27/2/2019). Anggota KKB menyerang petugas keamanan dan membakar sebuah alat berat milik PT Istaka Karya.

Sebelumnya, KKB menyebar ancaman melalui media sosial. TNI menganggap ancaman KKB itu adalah propaganda.  Wakapendam Letkol Inf Dax Sianturi membenarkan penyerangan tersebut, namun dirinya membantah telah terjadi baku tembak antara TNI dan KKB.

Baca fakta lengkapnya berikut ini:

1. KKB bakar alat berat dan melepaskan dua kali tembakan

Wakapendam Letkol Inf Dax Sianturi menjelaskan, informasi ada aksi teror oleh kelompok KKB diterima dari masyarakat setempat. “Kami dapat dari masyarakat memang kemarin (Rabu) sekira pukul 20.00 Wit.

KKB melakukan aksi pembakaran satu unit ekskavator yang tidak beroperasi atau dalam keadaan rusak di Distri Yal, Nduga,” ungkap Wakapendam melalui rilis yang diterima Kabarmandala.com, Kamis (28/2/2018).

Wakapendam menegaskan tembakan yang dilakukan ke arah petugas keamanan oleh kelompok KKB hanya dua kali, selanjutnya mereka kabur.

“Tidak ada laporan adanya kontak tembak, hanya saat melaksanakan aksi bakar alat berat KKB melakukan tembakan sebanyak dua kali,” kata Wakapendam.

2. Beredar ancaman dari KKB di media sosial

Sebelum terjadi penyerangan, beredar berita di media sosial adanya kecaman dari KKB yang mengusir seluruh masyarakat dari Kabupaten Nduga.

Namun, aparat keamanan mengaku itu adalah propaganda KKB. Kodam XVII Cendrawasih menyebutkan, KKB kini menggunakan media sosial (medsos) untuk menebar teror dengan isu hoaks.

Propaganda tercatat disebarkan oleh Sabby Sambon, yang menyatakan diri sebagai juru bicara KKB.

Pesan KKB di media sosial tertulis demikian: “Komandan POS dan Anggota menurunkan bendera merah putih dalam waktu dekat, dan warga sipil non Papua cepat meninggalkan wilayah Nduga, sebelum kami melakukan serangan selanjutnya”.

3. TNI: Ancaman KKB hanyalah propaganda

Pihak TNI segera menjelaskan, ancaman KKB di media sosial hanyalah propaganda. KKB mencoba memanipulasi fakta dengan menyebarkan propaganda di media sosial.

“KKB selalu berupaya membentuk opini dengan memutarbalikkan fakta seolah-olah TNI/Polri yang melakukan kejahatan kemanusiaan dengan isu ribuan rakyat mengungsi dan kelaparan di hutan.

Padahal kehidupan sosial dan roda perekonomian di Kabupaten Nduga berjalan dengan normal,” kata Kapendam XVII/Cendrawasih Kolonel Inf Muhammad Aidi, dalam rilis yang dikirim ke Kabarmandala.com, Kamis (28/2/2019).

Pihak TNI dan Polri telah melaksanakan pengecekan langsung di lapangan dan menyatakan bahwa info tentang kontak tembak tersebut adalah hoaks dan tidak mendasar.

4. Kronologi penyerangan KKB menurut TNI

TNI menjelaskan kondisi dan situasi yang terjadi pada tanggal 26 Februari 2019. Saat itu tak ada baku tembak antara TNI dan KKB.

“Fakta yang sebenarnya adalah bahwa sekitar pukul 14.40 Wit tanggal 26/2/2019 bertempat di Kampung Yal Distrik Yal Kabupaten Nduga, Papua.

Gerombolan separatis pimpinan Egianus Kogoya telah melakukan pembakaran 1 unit eksavator milik PT Istaka Karya yang sudah tidak beroperasi lagi (rusak) yang dilakukan oleh kelompok KKB,” ungkap Kolonel Inf Muhammad Aidi, Kamis (28/2/2019).

“Sebelum melakukan pembakaran eksavator milik PT Istaka Karya, kelompok KSB tersebut melepaskan tembakan sebanyak 2 kali. Dalam aksi tersebut sama sekali tidak terjadi kontak tembak apalagi sampai jatuh korban,” katanya.

5. Imbauan TNI untuk warga hadapi ancaman KKB

Menanggapi ultimatum oleh KKSB di Nduga, Kolonel Muhammad Aidi menyatakan, Kabupaten Nduga adalah bagian dari wilayah kedaulatan NKRI sebagaimana daerah lain di seluruh nusantara.

Ia menegaskan, NKRI tidak akan mundur apalagi tunduk hanya karena adanya ultimatum dari kelompok gerombolan separatis. Pihak TNI/Polri akan memberikan perlindungan keamanan kepada seluruh warga negara Indonesia, termasuk di Nduga.

“Di sisi lain, gerombolan separatis selalu memutarbalikkan fakta bahwa TNI melaksanakan pelanggaran HAM. Namun, faktanya gerombolan separatis itulah pelaku pelanggaran HAM berat yang selalu melancarkan teror kepada penduduk sipil.

Mereka melakukan serangan kepada siapa saja tampa membedakan yang mana kombatan atau non-kombatan. Karena mereka adalah kelompok liar yang tidak berpendidikan dan tidak mengerti hukum,” katanya. Aidi mengimbau kepada seluruh warga sipil, terutama di Nduga, agar jangan terlalu takut terhadap ancaman dari gerombolan separatis tersebut.

Sebab, tujuan mereka adalah menciptakan keresahan dan rasa takut kepada masyarakat.