Desember 2, 2020

Hal unik jika menabrak babi di Papua,maka berfikirlah 3 kali lagi !

kabarmandala.com — “Babi menjadi simbol status kekayaan bahkan lambang kekuasaan bagi orang Papua,” ujar peneliti dari Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto . Hari sudah menetap di Papua sejak tahun 2008. Peneliti asal Yogyakarta ini mempelajari banyak hal soal Papua, termasuk soal babi.

“Dalam tradisi masyarakat pegunungan Papua, babi merupakan prasyarat utama dalam setiap pesta kawin maupun pesta jamuan. Untuk pesta kawin, babi termasuk mas kawin yang sangat penting nilainya. Dalam jamuan, daging babi dibagi-bagikan sebagai simbol persaudaraan dan persekutuan. Memasak babi serta memerciki para tamu dengan darah babi sebagai tanda persahabatan,” paparnya.

Di wilayah dataran tinggi, jumlah babi yang dibunuh secara langsung menjadi tolok ukur tentang seberapa penting orang yang meninggal. Semakin banyak babi yang dipelihara, semakin tinggi pula gengsi serta nilai kekayaan pemiliknya. Sebagian dari kekayaan ini biasanya digunakan untuk memperbanyak jumlah istri yang menandakan meningkatnya poligami termasuk peningkatan status dan pengaruh politik. Kebanyakan suku di Papua pun menyajikan babi sebagai sajian utamanya dalam upacara adat. Suku Dani misalnya, yang terkenal dengan upacara Bakar Batu.

“Dalam upacara adat suku Dani seperti perkawinan, kematian, pelantikan kepala suku, penyambutan tamu, pesta panen, dan festival budaya, babi dan ubi jalar dimasak dengan cara Bakar Batu (wam ebe ekho),” terangnya. “Suku Dani tidak makan daging babi setiap hari. Suku Dani jarang memotong babi hanya dengan tujuan hanya ingin makan dagingnya. Memotong dan memakan babi selalu terikat pada peristiwa sosial yang penting,” tambahnya.

Oleh sebab itu, jika ada orang yang menabrak babi di Papua maka akan dikenai harga yang mahal. Harganya tak main-main. “Babi sangat bernilai bagi masyarakat papua, terutama masyarakat Pegunungan Tengah Papua. Babi dibiarkan bebas berkeliaran. Pagi hari di lepas, petang hari, babi-babi pulang akan kembali ke kandang. Babi-babi ini berkeliaran di sembarang tempat, pekarangan rumah, kebun, hingga jalan raya,” terang Hari.

Berapa harga yang harus dibayar jika menabrak babi di sana?

“Ganti rugi ini biasanya disesuaikan dengan harga babi dewasa, walaupun yang ditabrak itu babi anak. Atau karena babi ini sangat disayang oleh pemiliknya maka ganti rugi dihitung berdasarkan jumlah susu babi betina,” jawab Hari. “Jumlah susu babi betina itu nantinya dikalikan dengan harga satu ekor babi dewasa. Sejumlah itulah yang harus dibayarkan bagi pengendara yang telah menabrak babi,” lanjutnya.

Hari berpesan, bagi traveler yang mau ke Papua harap hati-hati saat mengendarai kendaraan bermotor. Asal tahu saja, satu harga ekor babi dewasa bisa di atas Rp 1 jutaan. Jangan sampai menabrak babi ya!