Oktober 22, 2020

Hari ini 6 terdakwa kasus Makar Papua Surya Anta Cs Hadapi Sidang Vonis di PN Jakpus

kabarmandala.com — Enam tahanan kasus makar Papua Surya Anta Ginting cs akan menjalani sidang putusan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jumat (24/4/2020) hari ini. Mereka dituntut pidana penjara selama 1 tahun 5 bulan dengan tudingan tindak pidana makar. Keenam terdakwa kasus makar Papua itu antara lain; Surya Anta Ginting (39), Anes Tabuni alias Dano Anes Tabuni (31), Charles Kossay (26), Ambrosius Mulait (25), Isay Wenda (25) dan Arina Elopere alias Wenebita Gwijangge (20).

Mereka sudah menjalani masa penahanan selama 8 bulan sejak ditangkap pada 30 Agustus 2019 lalu dengan tuntutan makar saat aksi damai di depan Istana Negara Jakarta menolak rasisme terhadap mahasiswa Papua di Asrama Papua di Surabaya dan pengibaran bendera Bintang Kejora. Mereka sudah menjalani persidangan sejak awal tahun 2020. Dalam pembacaan tuntutan, Jaksa Penutut Umum menuntut keenam tapol Papua dengan tuntutan pidana penjara selama 1 (satu) tahun 5 (lima) bulan atas dalam Pasal 106 KUHP jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP tentang makar.

“Putusan akan dibacakan pada Jumat, 24 April 2020, jam 13.00 sampai selesai di PN Jakarta Pusat,” kata pengacara 6 terdakwa kasus makar Papua, Michael Hilman. Michael mengatakan keenamnya merasa harus dibebaskan, sebab mahasiswa Papua yang melakukan unjuk rasa pada saat itu sudah menjalankan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum. Namun disisi lain pengibaran Bintang Kejora saat aksi demo di depan istana negara jelas menjadi alat bukti yang kuat untuk menjerat mereka dengan pasal Makar.

“Mereka sudah memenuhi sebagai warga negara, yang sudah mengatarkan surat pemberitahuan aksi, kemudian setelah melakukan aksi pun yang difasilitasi oleh pihak aparat kepolisian; disiapkan makanan, disiapkan mobil kopaja untuk mengantarkan mereka pulang kembali” kata Michael dalam diskusi Pembebasan Tahanan Politik dan Masa Depan Demokrasi di Indonesia.

Saat di persidangan pun, berjalan dengan lancar, walaupun menurut Michael sidang berjalan tidak fair karena alat bukti dan saksi ahli tidak memenuhi unsur makar yang dipersangkakan, namun secara konstitusional sidang sudah memenuhi aturan. Pasal makar dipilih sudah sesuai sebagai alat untuk membungkam gerakan sipil Papua atau pun aktivis yang saat ini bahwa makna makar yang saat ini pun dinilai bisa dijelaskan secara baik dan rinci oleh JPU. Ini juga akan bisa dibuktikan dalam pembuktian materiil.

Sekedar informasi, keenam terdakwa kasus Papua ini ditangkap polisi pada 30 Agustus 2019 lalu . Kasus ini kemudian diperiksa di PN Jakarta Pusat dengan nomor register No. 1303/Pid.B/2019/PN Jkt.Pst. Kasus ini dimulai ketika Surya Anta, dan kawan-kawannya melakukan demonstrasi di depan Istana Presiden pada 22 Agustus dan 28 Agustus 2019 sebagai respon atas dugaan tindakan rasisme terhadap mahasiswa Papua di Surabaya.

Dalam demonstrasi ini, massa menyuarakan tuntutan agar tindakan rasisme ini segera diusut. Sebagaimana diberitakan, dalam demonstrasi ini terjadi pengibaran bendera Bintang Kejora dan menyuarakan pula dilakukannya referendum untuk kemerdekaan Papua. Atas hal ini, Surya Anta cs ditangkap karena diduga menjadi inisiator dari semua aksi ini dan terbuksi bersalah dengan pertimbangan barang bukti, saksi dan pendapat pakar hukum makar.