Oktober 24, 2020

Jalur ring road telah resmi dibuka untuk umum

kabarmandala.com — Kamis (19/9) kemarin jalan lingkar yang menghubungkan Pantai Hamadi, Entrop dengan Skyland Abepura akhirnya dibuka untuk umum. Banyak yang meyakini jalur Skyline lebih terurai namun ternyata ada juga yang khawatir. Harus menungu 9 tahun untuk masyarakat Kota Jayapura bisa menikmati hasil pembangunan berupa jalan sepanjang 3.57 Km. Bukan jarak yang jauh memang namun karena digarap di atas laut akhirnya terasa lama lantaran sulitnya medan.

Namun dengan dibukanya akses jalan ini paling tidak pengguna jalan bisa menghindari waktu-waktu macet khususnya pada jam-jam sibuk. Hanya saja meski sudah dibuka ternyata belum semuanya mengetahui sehingga dua hari terakhir kendaraan yang melintas di atas air ini bisa dihitung dengan jari.

Akan tetapi karena masih baru ternyata banyak juga yang memanfaatkan moment tersebut dengan sedikit “udik”. Menjadi kelompok masyarakat yang tak lepas dari teknologi dan mewajibkan untuk bisa diketahui publik lewat foto. Beberapa kali melintas ternyata ada saja mobil berhenti di pinggiran kemudian turun dengan rombongan dan berfoto selfie. Meski bisa dibilang intelek karena berpakaian rapi dan menggunakan kendaraan roda empat namun momentum ini tak disia-siakan meski harus memakan separoh badan jalan dengan mengabaikan keselamatan.

Bahkan ada juga yang melaju sambil memegang handphone dengan posisi merekam untuk selanjutnya diberitahukan kepada yang lain jika dirinya baru saja melintas di jalan lingkar. Dengan lebar jalan 12 meter dan masih sepi, ada juga kelompok dari club motor yang coba memacu kendaraannya sambil melakukan jumping berulang-ulang yang sudah pasti akan mengganggu kenyamanan pengguna jalan lainnya.

Cenderawasih Pos mencoba empat kali melintas di jalur ini dengan menggunakan kecepatan normal 60 Km/jam dan ternyata untuk sampai ke pintu jalan di Skyland dari pintu jalan di Pantai Hamadi dengan kecepatan tersebut hanya memakan waktu 3 menit.

Selanjutnya ketika motor dipacu dengan 90 Km/jam ternyata untuk sampai dari ujung ke ujung hanya membutuhkan waktu 2 menit. Ini tentunya berbeda ketika melintas mengikuti jalur Skyland. Bisa memakan waktu 8 hingga 13 menit. Hanya saja beberapa ratus meter dari pintu Skyland ini pengendara nampaknya perlu lebih berhati-hati karena posisi jalan mulai menurun dan secara otomatis kecepatan akan naik dengan sendirinya.

Lainnya adalah meski cukup lebar, pengguna jalan juga perlu berhati-hati mengingat terkadang ada kendaraan yang berhenti di pinggir jalan meski telah ada rambu dilarang berhenti. Pemerintah melarang kendaraan berhenti lantaran di lokasi ini tak ada space untuk memarkir kendaraan termasuk tak ada trotoar untuk pejalan kaki. Kiri kanan ring road hanya tembok beton setinggi 1 meter sehingga hanya bisa digunakan untuk melintas. Ini terkecuali jika ada kendaraan yang mengalami trouble dan tak bisa berjalan.

“Agak ngeri juga lewat sini, jalannya memang besar tapi harus tertib sebab sudah ada rambu tapi itulah generasi sekarang, semua ingin eksis. Harus foto dan video dulu. Saya pikir perlu ada petugas yang memantau, jangan baru dibuka malah ada kecelakaan.” Kata Saiful salah satu warga Entrop, Jumat (20/9)

Jalan lingkar ini mulai dikerjakan sejak tahun 2010 yang ketika itu masih dipimpin oleh Gubernur Barnabas Suebu. Pekerjaannya dilakukan dua tahap dimana tahap pertama sepanjang 2,7 Km yang dikerjakan Dinas PUPR dengan menyerap anggaran sebesar Rp 783.916.885.000 sedangkan untuk tahap kedua sepanjang 0,57 Km dari arah Vihara digarap oleh Balai Besar Jalan Nasional Wilayah XVIII dengan menghabiskan anggaran Rp 234.986.128.000. Jika ditotal sekitar Rp 1,018 triliun dengan dua mata anggaran.

“Untuk 2,7 Km dananya bersumber dari APBD provinsi sedangkan sisanya dari APBN dan kami pikir dengan besaran anggaran ini harus bisa menjamin jika akses jalan tak lagi macet seperti sebelum-sebelumnya,” kata anggota Komisi IV DPR Papua, Boy Markus Dawir.

Dari monitoringnya, Boy yang masuk dalam komisi infrastruktur ini melihat bahwa kondisi jalan saat ini sudah aman namun ada titik yang perlu dibenahi. Boy meyebut pada titik di bawah penjualan kelapa diperbaiki. Sebab dirinya melihat ada titik longsoran. Selain itu di lokasi penjualan kelapa ini juga terlihat kumuh dan tak tertata sehingga tak sedap dipandang mata.

Secara fisik harus diakui semua sudah oke. Namun bagian dinding kiri kanan nampaknya perlu dicat agar terlihat nyaman. Sebab kalau melihat yang ada saat itu terlihat kotor sekali akibat lumut. “Kalau dicat saya pikir akan menarik,” tambah Iksan yang nampak ikutan nongkrong.

Sepanjang jalan juga terdapat 89 lampu penerangan jalan yang energinya diambil lewat solar sel. Selain itu ada 8 rambu yang menjelaskan agar kendaraan jangan berhenti di pinggiran jalan. “Tadi coba melintas tapi kayaknya ada kelompok motor yang memanfaatkan jalan ini untuk balap-balapan. Ini harusnya tidak dilakukan sebab ini jalan umum,” kami pikir pemerintah perlu turun tangan.

Ring Road memang memberi warna baru mengingat jalan di atas laut ini terbilang belum ada di Jayapura. Selain Kampung Nelayan yang juga terbilang masih baru sehingga ada saja orang yang berhenti dan ikut berfoto. Kondisi aspal jalannya juga masih sangat mulus meski ada beberapa kerikil yang masih terbiar.

Nampaknya lokasi ini dibuka begitu saja tanpa memperhatikan bagian-bagian lain yang masih berceceran di sepanjang jalan apalagi di bagian pintu Vihara terdapat bambu dan kayu-kayu berserakan di pinggiran dan dipastikan berbahaya.

Hanya saja ada juga warga yang mengaku khawatir jika lokasi ring road ini justru digunakan untuk hal-hal yang salah. Misalnya dipakai untuk berpesta miras. “Saya melihat ada pinggiran jalan yang cukup luas dan bisa dipakai untuk nongkrong, hanya saja kami khawatir jika akhirnya ada yang melakukan pesta miras dan melakukan pemalakan,” kata Sulis seorang pengendara motor.

“Bayangkan kami perempuan lewat tengah malam lalu dicegat orang mabuk dan tadi nampaknya sudah ada yang mabuk,” sambungnya dengan nada khawatir. Selain itu sore kemarin juga terlihat kendaraan berat (tronton) yang membawa alat berat ecxavator dengan pengawalan polisi. Sebelumnya Ketua DPR Papua, Yunus menegaskan bahwa ring road ini peruntukkannya bukan untuk kendaraan berat tetapi kendaraan biasa mengingat ia sempat mendengar bahwa tiang peyangga di bagian bawah terjadi penurunan.

“Ring road ini jangan digunakan untuk kontainer. Kami tak mau kendaraan berat melintas disini sebab jangan sampai belum usianya malah sudah harus diperbaki sehingga secara gamblang kami ingatkan dulu,” imbuhnya.

Ketua Komisi IV DPR Papua yang membidangi infrastruktur, Yarius Balingga menambahkan bahwa dari beroperasinya ring road ini dipastikan akan lebih mempersingkat waktu. Ia berharap jalan tersebut bisa dijaga. “Selama ini Komisi IV selalu mempertanyakan alasan apa ring road belum juga difungsikan. Padalah gubernur telah meresmikan kartu non tunai. Jadi kami selalu mendorong agar ini bisa dibuka dan difungsikan, kalaupun ada masalah harusnya disampaikan,” cecar Yarius.

Sementara anggota Komisi IV, Boy Dawir menambahkan bahwa ia telah membangun diskusi secara internal komisi IV. Dimana dirasa perlu untuk tetap menyiapkan sarana dan akses jalan dan saling menghubungkan. “Menurut kami ini masih pas dengan semangat Nawacita Presiden Jokowi khususnya yang bersentuhan dengan pembukaan akses. Perlu dipikirkan jalur lain lagi” katanya.

Gambaran yang dimiliki Komisi IV ialah dari Weref Jayapura menuju Argapura, Hamadi dan tersambung ke ring road. “Kami sempat ngobrol dengan pemilik ulayat masyarakat adat Kayu Pulo dan mereka setuju hanya mereka menyampaikan bahwa menyangkut masalah ulayat itu harus dituntaskan lebih dulu dan saya pikir ini baik,” jelas Boy.

Disatu sisi pembangunan jalan tapi tidak mengenyampingkan hak masyarakat adat. “Kalau diijinkan ya kita lanjut, jika tidak ya jangan dipaksakan,” jelas Boy. Tak hanya itu, akses lain disampaikan bisa dibilang tak umum. Pasalnya lokasi yang dimaksud masuk dalam kawasan penyangga Gunung Cycloop.

“Lokasinya dari jalur Angkasa menuju Sentani. Jadi dari Angkasa menuju Buper dan Buper ke Kampung Harapan. Mungkin sudah masuk kawasan penyangga tapi bila disetujui harus dibuatkan pengaturannya yaitu akses menuju Cycloop dari Angkasa hingga Sentani semua ditutup. Tak boleh ada rumah atau aktifitas setelah jalan tersebut. Ditutup seperti jalan tol,” imbuhnya.