Oktober 26, 2020

Jokowi Minta TNI Mulai Berani Pakai Senjata yang Dilengkapi Kecerdasan Buatan

kabarmandala.com — PRESIDEN Joko Widodo (Jokowi) meminta TNI menerapkan sistem persenjataan berteknologi terkini alias modern. Jokowi menjelaskan, perubahan teknologi di dunia begitu cepat, dan sekarang persenjataan militer telah dilengkapi drone alias pesawat tanpa awak.

“Kita merasakan bagaimana teknologi drone dipersenjatai.” “Bisa mengejar tank, kendaraan militer, dan menghabisi dari jarak dekat maupun tidak dekat dan tepat sasaran,” papar Jokowi di Kantor Kemenhan, Jakarta, Kamis (23/1/2020).

Menurut Jokowi, persenjataan militer di seluruh dunia saat ini telah dikombinasikan dengan kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI). “Hati-hati dengan barang ini, dan TNI kita juga harus berani memulai, membangun barang-barang yang tadi saya sebutkan,” ujarnya.

“Kita harus memperkuat teknologi pertahanan kita, yang pertama teknologi automatisasi yang akan disertai pengembangan sistem senjata yang otonom,” sambung Jokowi. Selain itu, kata Jokowi, persenjataan dengan teknologi sensor telah diterapkan di industri militer, dan beberapa kali sudah digunakan dalam operasi-operasi angkatan bersenjata di dunia.

“Semua ini membutuhkan perencanaan kebijakan alutsista yang tepat.” “Apakah pembelian ini berguna untuk 20, 30, 50 tahun yang akan datang? Harus dihitung, harus dikalkulasi secara detail.” “Belanja pertahanan harus diubah menjadi investasi pertahanan,” pinta Jokowi. Sementara, Jokowi menyebut pemerintah belum memutuskan membelian alat utama sistem senjata (alutsista) dari Prancis.

“Belum diputuskan, nanti minggu depan baru kami bicarakan.” “Jadi di bidang apa? Untuk peralatan apa? Nanti minggu depan,” ujar Jokowi di Gedung Kementerian Pertahanan, Jakarta, Kamis (23/1/2020).

Menurut Jokowi, pembelian alutsista dari beberapa negara sudah dijajaki oleh Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, baik dengan Prancis, Korea Selatan, maupun negara di Eropa Timur. “Ini akan segera diputuskan dan minggu depan kami akan rapat terbatas dengan Pak Menhan di Surabaya,” jelas Jokowi.

Kabarnya, Pemerintah Indonesia tertarik membeli jet tempur Dassault Rafale, kapal selam Scorpene, serta kapal perang korvet GoWind buatan Prancis. Di sisi lain, Jokowi menyebut alutsista buatan dalam nengeri oleh PT Pindad (Persero), juga banyak diminati beberapa negara.

“Ada beberapa negara lain berminat (selain Ghana dan Filipina). Untuk Filipina ini sedikit proses dan kemungkinan akan dimenangkan oleh kami,” tutur Jokowi.

Drone Elang Hitam

Jokowi dan Prabowo Subianto sempat melihat Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) alias drone Elang Hitam buatan Indonesia, yang dipamerkan di halaman Kantor Kemenhan, Kamis (23/1/2020). Hal itu seusai memberikan sambutan dalam acara Rapat Pimpinan Kementerian Pertahanan (Kemenhan) 2020,

Sebelum mendekati drone tersebut, Jokowi tampak menunjuk-nunjuk drone tersebut sambil berbincang dengan Prabowo. Terlihat keduanya juga sempat mendengar penjelasan dari staf terkait soal drone tersebut.

Kemudian, Jokowi didampingi Prabowo dan Kepala Kantor Staf Kepresidenan Moeldoko mendekat ke drone tersebut dan mendengarkan penjelasan lebih jauh. Setelah mendengar penjelasan selama sekira tiga menit, mereka kemudian masuk ke dalam ruang pameran Industri Pertahanan Swasta Nasional yang digelar di halaman Kemenhan.

Dari spanduk penjelasan yang ditampilkan di hari sebelumnya, drone tersebut mampu menjalankan operasi intelijen, pengamatan jarak dekat, akuisisi target, dan mampu dipersenjatai. Drone tersebut bisa dikendalikan sampai jarak 250 km (LOS) dengan ketinggian 3.000 sampai 5.000 km. Drone tersebut juga bisa dioperasikan sampai 30 jam dengan kecepatan hingga 235 km/jam. Drone tersebut berdimensi panjang 8,5 meter, rentang sayap 16 meter, dan tinggi 2,6 meter.

Drone tersebut memiliki bobot maksimum yang mampu dibawa hingga 300 kg dengan kapasitas bahan bakar sampai 420 liter. Dikutip dari laman PT Dirgantara Indonesia, pengembangan drone tersebut diinisiasi oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertahanan yang melibatkan TNI, BPPT, ITB, dan PT Dirgantara sejak 2015.

Proses desain drone tersebut dimulai dengan perancangan, dan pengujian oleh BPPT yang selesai pada 2018, dibiayai oleh Balitbang Kemhan dan BPPT. Pada 2017 dibentuk join konsorsium untuk pembuatan drone tersebut yang melibatkan Kemenhan, BPPT, TNI AU, ITB, PT Dirgantara Indonesia dan PT LEN Industri.

Kemudian pada 2019 LAPAN bergabung dalam join konsorsium tersebut. Proses perakitan drone tersebut dimulai pada 2019 yang diawali dengan perancangan struktur, perancangan tiga dimensi dan dua dimensi oleh teknisi BPPT yang diawasi oleh PT DI.

Proses sertifikasi militer drone tersebut dilaksanakan pada 2020, dan diharapkan selesai pada 2021, yang sertifikatnya dikeluarkan oleh IMAA. Proses integrasi sistem persenjataan prototipe drone tersebut dimulai pada 2020, dan diproyeksikan akan mendapat sertifikasi pada 2023.