Januari 24, 2021

Komnas HAM Temukan Adanya Kesamaan Pola Dari Hasil Penyelidikan Kerusuhan Papua dan Papua Barat

kabarmandala.com — Kantor Perwakilan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) telah mengambil tindakan dengan menurunkan tim untuk melakukan penyelidikan aksi demo berujung anarkis yang terjadi di Manokwari, Sorong, Fakfak, dan Jayapura. Dari hasil penyelidikan tim yang di turunkan ke lapangan, Komnas HAM mendapati ada kemiripan pola di keempat daerah tersebut.

“Kemiripannya misalnya, para mobil komando sebagai koordinator itu masih di tempat lain, masih di jarak yang lain, tapi perusakan dan penjarahan sudah terjadi di depan,” ujar Kepala Kantor Perwakilan Komnas HAM Provinsi Papua, Fritz Ramandey, di Jayapura, Minggu (8/09/2019).

Fritz juga mengaku telah berbicara kepada koordinator demo pada 19 dan 29 Agustus 2019 yang merupakan pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Cenderawasih dan Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ). Mereka adalah Ferry Kombo Mantan Ketua BEM Fisip Uncen dan Alexander Gobay, dan keduanya kini berada di tahanan Mapolda Papua sebagai saksi kasus kerusuhan Jayapura.

“Mereka berdua mengaku sebagai koordinator pada aksi pada 19 Agustus dan itu murni dikoordinir oleh BEM. Mereka menolak yang bawa atribut lain (pada aksi 29 Agustus) sama sekali diluar koordinasi mereka, karena itu mereka meminta ada penindakan kepada siapa yang mengkoordinir aksi-aksi pengrusakan, membawa bendera, itu harus bertanggung jawab,” tuturnya.

Dari keterangan mereka, Fritaz meyakini bila massa yang turun pada 29 Agustus sudah berbeda dengan yang ada pada 19 Agustus. Karenanya ia memastikan, baik Ferry Kombo atau Alexander Gobay akan membantu kepolisian untuk mengungkap fakta sebenarnya dibalik kerusuhan yang terjadi di Jayapura.

“Betul (ada penyusup), mereka menyesal karena dalam waktu dekat mereka akan wisuda. Mereka berdua sudah menyatakan akan mendukung seluruh upaya hukum kepolisian dan akan kooperatif,” tutur Fritz. Selain itu, ia memastikan bila seluruh tahanan yang terkait kasus kerusuhan Jayapura dalam kondisi baik dan diperlakukan manusiawi oleh aparat. Aksi protes anti rasisme berujung rusuh di sejumlah wilayah di Papua dan Papua Barat. Pada 19 Agustus, kerusuhan terjadi di Manokwari dan Sorong, Papua Barat. Lalu pada 21 Agustus kerusuhan juga pecah di Fakfak, Papua Barat dan Mimika, Papua. Kemudian pada 29 Agustus, kerusuhan terjadi di Kota Jayapura dan melumpuhkan aktifitas masyarakat.