Oktober 28, 2020

Kurangnya pasukan di Papua membuat kejahatan KKSB OPM makin menjadi

kabarmandala.com — Kapolda Papua Irjen Paulus Waterpauw mengeluhkan kurangnya personel Polri di jajaran Polda Papua. Hal ini membuat beberapa kasus membutuhkan bantuan personel dari polda lain. “Seperti kejadian pada Agustus lalu, kita harus mendatangkan personel bantuan Nusantara. Kalau personel kita cukup di sini tidak perlu ada bantuan dari polda lain,” ujar Paulus Waterpauw yang didampingi Wakapolda Papua Brigjen Yakobus Marjuki dan Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Musthofa Kamal di Mapolda Papua, Sabtu (28/12/2019). Paulus meminta jajarannya merencanakan penerimaan personel Polri yang cukup di Papua dengan merekrut putra-putra Papua.

Jumlah personel Polda Papua berikut jajarannya pada tahun 2019 sebanyak 11.984 orang. Dengan luas wilayah 317.062 km2 dan jumlah penduduk 2.612.854 orang, Paulus menyebut Polda Papua butuh sekitar 11 ribu personel lagi. “Saya minta untuk memenuhi 11.085 personel supaya dibuat perencanaan yang baik untuk tahun depan,” sebut Paulus.

Selain penambahan jumlah anggota, mantan Kapolda Sumatera Utara itu juga ingin jajarannya melakukan peningkatan kapasitas personel dengan melakukan Pendidikan Pengembangan Umum (Dikbangum), Pendidikan Pengembangan Spesialis (Dikbangspes), pelatihan fungsi serta pendidikan dan latihan kerja sama dengan IOM (Diklat Lugri).

Dalam laporan refleksi akhir tahun 2019 Polda Papua, Paulus mengatakan kejahatan yang menonjol di Papua selama tahun 2019 ialah ancaman keamanan dari kelompok kriminal bersenjata (KKB). Selama tahun 2019, kejahatan yang dilakukan KKB sebanyak 23 kasus, terjadi di Polres Puncak Jaya, Polres Jayawijaya, Polres Mimika dan Polres Paniai.

“Dalam kasus tersebut terdapat korban dari TNI/Polri dan masyarakat, yaitu anggota TNI meninggal dunia sebanyak 8 orang, anggota Polri 2 orang meninggal dunia dan masyarakat meninggal dunia sebanyak 10 orang,” jelasnya.