Maret 3, 2021

Lonjakan bertambahnya Covid 19 di Papua paling banyak di kawasan Freeport Timika

kabarmandala.com — Telah ada lonjakan dalam jumlah kasus COVID-19 yang dikonfirmasi di Kabupaten Mimika, Papua, yang merupakan lokasi pusat penambangan Freeport di Papua. Mimika sekarang memiliki 51 kasus, terbanyak dari setiap kabupaten di wilayah Papua. Kementerian Kesehatan Indonesia mengatakan, jumlah kasus COVID-19 yang dikonfirmasi di provinsi Papua Barat adalah 37, dan 189 di provinsi Papua yang berdekatan, dengan tujuh kematian secara keseluruhan. Kota-kota dekat perbatasan dengan Papua Nugini, Jayapura dan Merauke, termasuk di antara zona merah.

Namun yang menjadi kekhawatiran khusus para pejabat kesehatan provinsi adalah lonjakan kasus selama beberapa minggu terakhir di Mimika, di mana tambang emas dan tembaga Freeport berada, RNZ melaporkan. Puluhan kasus baru telah muncul di kota utama Timika di antara penduduk yang sering bepergian bolak-balik dari wilayah bagian lain di Indonesia. Itu terjadi seiring kabupaten tersebut mengalami serangkaian bentrokan mematikan antara Tentara Pembebasan Papua Barat dan pasukan keamanan Indonesia.

Sementara itu, jumlah total kasus COVID-19 yang dikonfirmasi di Indonesia adalah 9.771 kasus dengan 784 kematian, dan hampir 1.400 kasus sembuh, menurut Kementerian Kesehatan. Dengan tidak adanya tindakan pengamanan yang ketat, kasus COVID-19 di Indonesia melonjak menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara.

Krisis yang meningkat memicu deklarasi darurat kesehatan nasional dan pemberlakuan langkah-langkah menjaga jarak (physical distancing) di Jakarta dan daerah-daerah lain yang terkena dampak. Pembatasan nasional untuk perjalanan komersial melalui udara, laut, dan darat sekarang telah berlaku.

Peralatan baru sedang diimpor untuk meningkatkan pengujian, sementara sejumlah upaya sedang dilakukan untuk memproduksi alat pelindung diri (APD) untuk staf medis dan ventilator yang sangat dibutuhkan untuk pasien. Pada 13 Maret, Jokowi mengumumkan paket stimulus senilai US$8 miliar, yang mencakup US$324 juta dalam bentuk bantuan untuk rumah tangga berpenghasilan rendah.

Intervensi tersebut mungkin sudah terlambat. Menurut proyeksi pemerintah sendiri, 95.000 infeksi akan dikonfirmasi pada akhir Mei. Para peneliti independen dari Universitas Indonesia memperkirakan 1,7 juta infeksi dan 144.000 kematian.