Oktober 26, 2020

Menolak berdemo,palajar SMP di Wamena dibakar rekannya

kabarmandala.com — Frans Tabuni (14) tahun, salah satu korban kerusuhan yang terjadi di Wamena, Senin (23/9) lalu tampak terbaring lemah di tempat tidur Intalasi Gawat Darurat RSUD Wamena. Frans ditemani ibu dan pamannya. Anak pasangan Hermanus Tabuni dan Hertab ini, mengalami luka bakar hingga 21 persen. Ibu korban, Hertab Tabuni rombongan Gubernur Papua yang menjenguk, Rabu (25/9) kemarin menceritakan, bagaimana anak lelakinya bisa menjadi korban kebrutalan para pendemo

Dia mengungkapkan, saat hari kejadian, anaknya bersama teman temannya yang lain sedang mengikuti ujian di sekolahnya SMP Negeri I Wamena “Waktu sedang ujian. Terus pelajar lain datang ajak dia dengan temannya untuk ikut berdemo. Tapi anak saya ini tolak, buat mereka marah. Lalu mereka ambil bensin, siram saya punya anak (korban) dengan teman temannya, lalu mereka bakar,” tuturnya

Beruntung korban bersama tiga temannya yang lain, langsung ditolong dan dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis. “Jadi mereka ini ada jalan sama sama langsung disiram bensin, sekarang ini mereka tiga masih hidup, satu temannya sudah meninggal,” bebernya.

Meski mengalami luka bakar cukup serius dan harus menjalani operasi akibat benturan di kepala, namun menurut Hertab, anaknya tidak akan dirujuk ke Jayapura. “Biar dirawat disini saja. Habis bapaknya di Jayapura juga bilang, tidak usah dirujuk,”ungkap

Hertab berharap aparat Kepolisian segera menangkap para pelaku yang telah menyiramkan bensin dan membakar anaknya. “Kami berharap pelaku itu segera ditangkap dan diberi hukuman seberat beratnya atas perbuatan yang sudah dilakukan terhadap anak saya,” harapnya.

Selain Frans Tabuni, terdapat puluhan korban kerusuhan lainnya yang masih dirawat di rumah sakit Wamena. Menurut salah satu dokter, sebagian lainnya juga sudah dirujuk ke Jayapura. Terutama pasien pasien yang harus mendapat penanganan medis lebih lanjut.

Hingga Kamis hari ini tercatat 30 orang meninggal dunia dan 73 lainnya mengalami luka luka . Sebagian besar korban meninggal dunia akibat terjebak dalam bangunan yang dibakar massa. Akibat kerusuhan, ratusan bangunan baik itu kantor pemerintahan, fasilitas umum dan perekonomian dirusak dan dibakar massa, puluhan kendaraan baik roda dua dan roda empat juga takluput dari sasaran massa yang anarkis.