November 1, 2020

Paham ‘Separatis’ sangat ditolak warga Papua dan Papua Barat

kabarmandala.com — Situasi di Papua dan Papua Barat saat ini relatif aman dan kondusif. Situasi ini perlu terus dijaga mengingat Organisasi Papua Merdeka (OPM) terus memprovokasi masyarakat untuk membuat kerusuhan. Padahal, warga Papua dan Papua Barat tegas menolak OPM dan ideologi separatisnya karena kelompok tersebut sering menyengsarakan masyarakat.

Sebelumnya, Tim Patroli Siber Polri sempat mendeteksi adanya ajakan bernada provokatif OPM, terutama terkait peringatan HUT OPM 1 Desember 2019. Meski demikian ajakan bernada provokasi tersebut tidaklah berdampak signifikan. Polisi juga terus menghimbau kepada masyarakat agar tidak terprovokasi.

Kenyataannya, masyarakat Papua maupun tokoh masyarakat Papua tidak terpengaruh oleh provokasi di media sosial tersebut. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat Papua dan tokoh Masyarakatnya masih menginginkan kedamaian di Bumi Cenderawasih.

Masyarakat Papua menganggap provokasi OPM sebagai angin lalu. Salah satu pemuda Papua yang bernama TW Deora mengatakan, sikap dingin masyarakat terhadap 1 Desember 2019 merupakan wujud bahwa OPM semakin ditolak masyarakat Papua dan Papua Barat.

Beberapa hari menjelang 1 Desember 2019, akun twitter milik buronan Indonesia Veronica Koman aktif mempolitisir situasi di Papua. Di media sosial, akun Medsos separatis juga mengabarkan adanya insiden bendera Bintang Kejora di Balai Kota Australia.

Memang ada segelintir orang yang mendukung referendum Papua, seperti yang terjadi di depan Gong Perdamaian, Kota Ambon, Maluku, yang dilakukan puluhan orang dengan menuntut pemberian hak menentukan nasib sendiri bagi bangsa West Papua dan Bebaskan tahanan politik Papua. Dari berbagai tuntutannya, kelompok ini jelas merepresentasikan sayap politik OPM terlihat dari bunyi tuntutan yang sebenarnya tidak realistis untuk ditanggapi oleh siapapun, apalagi oleh Pemerintah.

Salah seorang tokoh pemuda asal Papua, Erwin Abisay mengatakan, para peserta aksi lebih baik menghentikan aksinya dan tidak perlu menuntut merdeka. Pihaknya ingin mengajak agar seluruh mahasiswa Papua yang studi agar menyelesaikan studinya dengan baik karena Papua belum sepenuhnya merdeka di bidang pendidikan.

Ajakan tersebut tentu merupakan wujud kecintaan tokoh Papua terhadap tanah kelahirannya, generasi Papua yang memahami sejarah Papua tentu tidak akan menuntut kemerdekaan Papua. Sementara itu, terkait dengan peringatam HUT OPM ini yakni peristiwa penangkapan 4 orang jemaat Misa di Gereja Katolik Gembala Abepura, didapati mereka membawa bendera bintang kejora.

Secara statistik, yang menginginkan Papua Merdeka bukanlah masyarakat dalam jumlah banyak, tetapi hanya segelintir orang yang ‘pandai’ memprovokasi untuk mengoyak rasa persatuan di Papua. Jika kelompok OPM hanya didukung oleh segelintir orang, hal ini berbanding terbalik dengan masyarakat Papua terutama generasi mudanya yang tidak lagi percaya dengan ULMWP, OPM, AMP, KNPB hingga Benny Wenda.

Mereka melakukan aksi damai untuk memperkuat integrasi Papua dalam NKRI melalui berbagai acara seperti lomba futsal, beribadah di berbagai wilayah seperti Manado serta aksi damai bertajuk “Tidak ada ruang untuk perpecahan, Papua adalah Indonesia”.

Fenomena tersebut tentu menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia semakin yakin bahwa mereka masih memiliki saudara-saudara di Papua sebagai sebuah bangsa yang kokoh. Perkembangan tersebut menunjukkan banyak masyarakat Indonesia yang kurang setuju dengan Ide Referendum is Solution for Papua’s case yang dilantangkan oleh Benny Wenda.

Masyarakat Papua telah menunjukkan komitmennya untuk menjaga agar Papua tetap menjadi tanah damai dan hal ini sudah disepakati dengan tidak membuat kegaduhan ataupun membagikan berita yang tidak benar. Apalagi Desember merupakan bulan untuk persiapan perayaan natal bagi umat Kristiani. Sehingga jangan sampai kedamaian Natal dipengaruhi oleh isu murahan.

Menurutnya daripada membuat aksi atau orasi-orasi yang bisa memancing kerusuhan lebih baik masyarakat berdoa di rumah masing-masing, bukan dengan berkumpul di jalan-jalan atau di satu tempat yang sudah dilarang oleh pemerintah. Apalagi dalam 3 bulan terakhir ini situasi di Papua tengah dalam situasi pemulihan pasca aksi anarkis di sejumlah daerah.

Dalam kesempatan berbeda, Pdt. Albert Yoku selaku tokoh Agama juga menghimbau kepada masyarakat agar menghindari segala sesuatu yang dapat menimbulkan kerusuhan dan kekacauan di Bumi Cenderawasih.

Sehingga Jangan sampai kedamaian di Papua dirusak oleh informasi yang tidak benar. kecermatan dan kebijaksanaan tentu diperlukan ketika menerima berita bernada provokatif. Sehingga kesakralan bulan Desember tetap terjaga tanpa adanya provokasi, kegaduhan ataupun isu-isu murahan yang dapat mengganggu stabilitas keamanan di Papua dan Papua Barat.