Oktober 24, 2020

Papua Tetap Tertinggal meski Tanpa Otonomi Khusus

kabarmandala.com — Rencana pembentukan daerah otono­mi baru (DOB) Provinsi Papua Tengah hingga saat ini masih terganjal sejumlah persyaratan. Karena itu, diperlukan inter­vensi serta instrumen khusus. Tanpa perlakuan khusus, Pap­ua akan selamanya tertinggal.

“Dalam perspektif kebu­tuhan, usulan pembentu­kan DOB Provinsi Papua Ten­gah tidak hanya dilihat sebagai keniscayaan politik, tetapi juga menjadi keharusan secara sos­ial di mana terjadi pertemuan antara aspirasi lokal dan ke­pentingan nasional. Oleh kare­na itu, usulan pembentukan DOB di Papua menjadi kebu­tuhan yang mendesak untuk diwujudkan,” kata Peneliti Ah­li Gugus Tugas Papua (GTP) UGM, Gabriel Lele, di Yogya­karta, Kamis (30/1).

Gabriel yang juga dosen De­partemen Manajemen dan Kebi­jakan Publik Fisipol UGM terse­but mengatakan, jika pada akh­irnya usulan pembentukan DOB Provinsi Papua Tengah diteri­ma, maka penerimaan tersebut harus diperlakukan secara hati-hati dan diletakkan dalam kon­teks khusus yang membutuh­kan penanganan khusus pula. Kekhususan tersebut, harus dii­kuti dengan pengawalan yang lebih ketat pada level manajeri­al hingga operasional.

Sementara itu, Guru Besar Fisipol UGM, Purwo Santoso, menegaskan usulan pemben­tukan provinsi Papua Tengah tidak boleh hanya dimaknai sekadar menghadirkan insti­tusi baru, apalagi hanya untuk mengakomodasi kepentingan sesaat. Menurutnya, pemben­tukan DOB harus disertai den­gan nalar.

Menurutnya, penataan un­tuk kondisi pelik dan khusus seperti Papua itu harus dipas­tikan dalam kebijakan nasional serta instrumen-instrumen tu­runan yang mengikutinya. “Keberhasilan pemekaran menjawab berbagai perma­salahan Papua dalam konteks otonomi khusus (Otsus) justru terletak pada kelihaian instru­mentasi yang dapat menjem­batani aspirasi lokal dan ke­pentingan strategis nasional.

Singkatnya, pemekaran hanyalah sarana yang harus diberi substansi lebih untuk dapat menjadi solusi bagi kom­pleksitas persoalan Papua. Bupati Nabire, Isaias Douw, selaku Ketua Tim Pengu­sul Pemekaran Papua Tengah, merespons hasil kajian UGM dengan optimistis. Dia me­nyampaikan Papua Tengah memiliki keinginan kuat untuk maju deperti daerah lain di In­donesia. “Kami tidak mau Papua Tengah gagal untuk kedua ka­linya. Kami mempunyai poten­si ekonomi yang kuat dan akan terus berjuang,” ucap Isaias Douw.