Juli 29, 2021

Pasca Demonstrasi di Wilayah Papua Barat Warga Bersatu Bersihkan Sisa Kerusuhan

kabarmandala.com — Pasca demonstrasi di Wilayah Provinsi Papua Barat, pada Kamis (22/8) jauh berbeda dari hari sebelumnya. Tak ada lagi pembakaran, tak ada teriakan-teriakan mengancam, tak ada lemparan batu dan gas air mata. Sejak pagi hari warga di wilayah itu bersama-sama membersihkan palang jalan yang sebelumnya dipasang dalam aksi unjuk rasa menolak rasialisme yang berujung ricuh pada 19-20 Agustus 2019.

Di Jalan Pendidikan, Kelurahan Klabulu, belasan warga dari berbagai latar belakang suku dan agama bersatu bergotong royong membersihkan puing-puing kayu dan ban yang dibakar di tengah jalan. Lurah Klabulu Antonia Iek menjelaskan, kebersamaan warga Kelurahan Klabulu ini menunjukkan kepada dunia bahwa warga Papua cinta kedamaian dan persatuan bangsa. “Terlebih khusus Kelurahan Klabulu menghargai perbedaan suku, ras, dan agama sebagai bangsa Indonesia,” kata dia, kemarin.

Suasana di Kota Sorong memang sudah mulai kondusif. Demikian juga dengan kondisi di Manokwari, ibu kota Papua Barat. “Alhamdulillah, kondisi di Manokwari sudah kembali normal, sampah-sampah yang berserakan di jalan sudah dibersihkan oleh TNI, Polri, ASN dan masyarakat. Alhamdulillah,dari kemaren dan sampai hari ini sudah berangsur normal,” kata Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Papua Barat Ustaz Ahmad, Kamis (22/8).

Ia menjelaskan, untuk meredam gejolak di Papua, harus ada langkah hukum terhadap orang-orang yang diduga melakukan ujaran kebencian dan rasialisme. Ustaz Ahmad juga menyesalkan terjadinya perusakan fasilitas umum di sejumlah daerah di Tanah Papua. “Provokator, pihak yang sengaja membuat keributan yang berujung pada tindakan anarkisme dan pembakaran, diserahkan ke aparat penegak hukum untuk mencari siapa dalang di balik kerusuhan,” ujarnya.

Bagaimanapun, ketenangan di Sorong dan Manokwari tak menggambarkan kondisi secara keseluruhan di Papua. Aksi unjuk rasa yang juga berujung kericuhan pada saat yang bersamaan terjadi di Fakfak, Papua Barat, dan Timika, Papua. Di Fakfak, menurut warga setempat Jumat Patipi, massa sempat melakukan pembakaran di Pasar Tambaruni. “Sempat juga ada kasi naik bendera Bintang Kejora di kantor Lembaga Adat Papua di Kota Baru,” ujar dia.

Aksi pengibaran bendera tersebut kemudian dihentikan oleh sekelompok warga lain yang tergabung dalam Barisan Merah Putih. Massa aksi tandingan ini, kata Jumat Patipi, datang dari Wagom, Tanama, Pasir Putih, Kokas, dan sejumlah wilayah lain di Fakfak. “Itu mereka datang bawa bendera Merah Putih terus kasi bubar aksi. (Warga pendatang) dari (Pulau) Seram juga ikut,” kata dia.

Fakfak memang memiliki demografi agak berbeda dengan wilayah-wilayah lain di Papua dan Papua Barat. Wilayah itu terbilang lebih dahulu kedatangan penduduk dari Maluku dan Sulawesi daripada daerah lainnya di tanah Papua. Kapolres Fakfak AKBP Deddy Four Millewa mengatakan, aksi di Fakfak bukan sekadar aksi yang dilakukan oleh mahasiswa maupun masyarakat saja. Ia menilai aksi itu terorganisasi. “Ini campuran, jadi ada terorganisasi kelompok-kelompok terorganisasi berbau politis, seperti OPM (Organisasi Papua Merdeka) dan organisasi Bintang Kejora dan lain-lain,” Kamis (22/8).

Dan juga menyebut sempat muncul pula ketersinggungan saat Bupati Fakfak Mohammad Uswanas dipaksa memegang bendera Bintang Kejora. Saat itu, katanya, ada pihak lain yang merasa tersinggung saat bupati dipaksa sehingga sempat terjadi bentrok antarwarga. “Sudah konsolidasi semua pihak untuk amankan dua kubu, ada bentrok antara dua kubu”. Ia mengatakan, dalam aksi di Fakfak, kepolisian menemukan atribut bendera Bintang Kejora yang selama ini menjadi simbol perlawanan dan kemerdekaan Papua Barat.

“Tadi yang dibawa ada berapa, ya, saya tidak bisa hitung, tapi ada banyak juga, tapi yang didirikan satu di kantor Dewan Adat sebagai simbol,” ujarnya. Wakil Gubernur Papua Barat Mohamad Lakotani juga mengatakan, ada indikasi kerusuhan yang terjadi di Kabupaten Fakfak ditunggangi oleh sejumlah kelompok. “Mungkin kelompok kriminal, kelompok anak-anak nakal yang selama ini suka melakukan kriminal dan menanti momen melakukan penjarahan dan kegiatan semacam ini,” ujar Mohamad Lakotani.