Agustus 3, 2021

Pembinaan potensi potensi di Papua Barat perlu dipertanyakan

kabarmandala.com — Pengelolaan dan Pembinaan Olahraga di Provinsi Papua Barat, dinilai masih jauh dari harapan. Hal ini menyebabkan banyak atlit Kontrak non Papua Barat yang dipakai pada Pekan Olahraga Nasional (PON) Ke-XX Tahun 2020 di Provinsi Papua. Kondisi tersebut memunculkan banyak pertanyaan dari semua kalangan masyarakat. Salah satunya, dari tokoh muda yang peduli terhadap perkembangan olahraga, Filep Wamafma, SH, M. Hum, C.LA.

Dia bahkan mempertanyakan kinerja instansi teknis yang membawahi soal keolahragaan, baik Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Papua Barat, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora), dan KNPI Papua Barat. “Dalam olahraga kita junjung tinggi sportifitas, profesional dan kualitas. Namun segala sesuatu baiknya tidak diukur dengan prinsip jual beli, ada uang ada barang. Harusnya ini dihilangkan dari Green Desain Generasi Papua,” ungkap Filep, yang juga calon anggota terpilih DPD RI, Kamis (8/8/2019), kepada jagatpapua.com.

Menurut Filep, yang dibutuhkan saat ini, adalah membangun generasi Papua yang berkarakter, sehat, beriman dan berkualitas. Sehingga rekrutmen atlit yang bukan berasal dari Papua Barat tentu menimbulkan pertanyaan bagi semua kalangan. “Apakah ada potensi, apakah ada rekrutmen atlit, apakah ada pembinaan atlit, atau apakah ada program KONI, Dispora dan KNPI dalam membentuk dan membina para atlit muda di Papua Barat. Ini yang jadi pertanyaan,” sebut Filep, yang juga menjabat sebagai Ketua STIH Manokwari tersebut.

Filep mencontohkan, seperti yang terjadi di satu satu Cabang Olahraga Voli Papua Barat. Kalau rekruitmet atlit luar, karena tidak ada stok atlit daerah, hal itu wajar. Namun jika karena manejemen, ini yang harus menjadi PR besar untuk membangkitkan kembali masyarakat olahraga di Papua Barat. “Saya sedih melihat tata kelola pembangunan dalam kalangan pembentukan program kepemudaan. Kita bangga dengan DIPA yang besar, tetapi tidak kelihatan wujud atau output yang diharapkan,” ucap Filep.

Untuk itu, kata Filep, paradigma dengan mengkontrak atlit dari luar Papua Barat, harus dirubah karena tidak tepat. Oleh sebab itu mari berbenah, merubah cara berpikir instan, yang sesaat. “Saya memandang Papua Barat adalah gudang atlit potensial. Oleh sebab itu kita harus mendukung pembentukan semua cabor, rekrut pemain muda berbakat, kemudian dibina secara profesional. Karena kita semua punya keinginan suatu saat Orang Asli Papua, khususnya para atlit dapat sejahtera dari profesinya,” ujar Filep.