Oktober 30, 2020

Pemprov masih mencari sejarah dan potensi di pulau fani

kabarmandala.com — Sekertaris utama Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) Sujahar Diantoro, bersama Gubernur Papua Barat, Drs. Dominggus Mandacan, Sabtu (7/12/2019) pagi bertolak dari pelabuhan Komando Armada III Kota Sorong, menuju Pulau Fani.

Pulau Fani, yang terletak di Kepulauan Raja Ampat ini merupakan salah satu pulau terluar di Provinsi Papua Barat, yang berbatasan dengan Negara Republik Palau. Gubernur Dominggus Mandacan mengatakan, pemerintah Papua Barat belum sepenuhnya memiliki data tentang kondisi masyarakat di Pulau Fani termasuk potensi dan sejarahnya.

Kunjungan kali ini, selain melakukan tatap muka dengan warga, sekaligus bersama BNPP meletakan batu pertama monumen perbatasan Indonesia-Republik Palau di pulau tersebut. “Kita akan bertemu langsung dengan warga disana untuk mendengar sejarah Pulau Fani yang merupakan pulau terluar milik NKRI ini,” ungkap Dominggus.

Sementara, Kepala kesbangpol Papua Barat, Baesarah Wael, mengatakan pulau Fani merupakan salah satu pulau di kabupaten Raja Ampat. Selama ini dijaga oleh TNI AL dengan pos perbatasan. Gubernur dan rombongan, kata Baesarah, selain kunjungi pulau Fani juga akan kunjungi warga di Kampung Retum, salah satu pulau yang juga berpenghuni.

“Selain Pulau Fani yang berpenghuni, juga ada empat kampung yaitu, kampung Reni, Rutum, Meos Bekwan dan Abidon. Rencana, gubernur akan singgah di kampung Rutum,” tandasnya. Gubernur dan rombongan bertolak ke Pulau Fani, menggunakan kapal express Belibis, diperkirakan perjalanan laut selama delapan jam untuk sampai ke pulau tersebut.