Desember 2, 2020

Pengamat Intelijen Dukung Panglima TNI-Kapolri Gunakan Pendekatan Humanisme dalam Pengamanan Nataru

kabarmandala.com — Pengamat Intelijen, Pertahanan, dan Keamanan, Ngasiman Djoyonegoro mengatakan jalinan soliditas dan sinergisitas TNI-Polri saat ini telah menunjukkan kekompak dan integrasi antara unsur keamanan dan pertahanan. Perjuangan Panglima TNI dan Kapolri untuk membangun hal ini menunjukkan keluasan pengetahuan dan pemahaman kedua pimpinan dalam menghadapi tantangan disintegrasi NKRI. Terlebih garis visi presiden untuk mewujudkan Indonesia Maju tak mungkin dapat terwujud tanpa aspek pertahanan dan keamanan yang mumpuni.

Menurut pria yang akrab disapa Simon tersebut, mengatakan publik dapat menyaksikan dan menilai bagaimana kedua institusi tersebut berhasil membangun relasi di seluruh tingkatan. Dari tingkat pimpinan hingga prajurit. Saat ini Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto bersama Kapolri Jenderal Polisi Idham Azis sendiri tengah menyelenggarakan kunjungan bersama ke objek-objek vital dalam rangka memantau situasi dan kondisi, serta kesiapan personel TNI – Polri mengamankan ibadah natal 2019 dan perayaan tahun baru 2020. Terbaru, kedua pimpinan melakukan kunjungan ke dua gereja di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Minggu (22/12) siang.

“Yang menarik, kedua pimpinan tersebut menyatakan untuk mengedepankan pendekatan humanis. Ini adalah bentuk penerjemahan dari anti diskriminasi dan kekerasan sekaligus menegaskan komitmen TNI-Polri terhadap Hak Asasi Manusia,” kata Simon. Pendekatan humanisme digunakan untuk memastikan bahwa masyarakat dapat merasa lebih tenang, aman dan nyaman dalam beribadah dan aktivitas lainnya tanpa harus melihat adanya kontak senjata.

Artinya pendekatan baru ini dilaksanakan dengan operasi yang lebih rapi dan ketat tapi tidak harus terlihat adanya penggunaan senjata. Ini membutuhkan kerja yang lebih berat dan koordinasi yang kuat. Disamping itu, Simon juga memberikan apresiasi kepada Kapolri saat ini Idham Azis yang terus melanjutkan apa yang sudah dibangun dan digagas oleh Kapolri sebelumnya Tito Karnavian bersama Panglima TNI dalam membangun soliditas dan sinergitas bersama TNI-Polri termasuk dalam upaya pengamanan Natal 2019 dan Tahun Baru 2020.

Namun, ditengah kondusifitas kedua instansi tersebut, pria yang akrab disapa Simon itu kembali mengingatkan soal tantangan kedepan yang dihadapi TNI khususnya. Tantangan tersebut salah satunya berupa cyber war. Peperangan di dunia maya lebih mengerikan, kebocoran data, serangan dunia digital berpotensi besar melumpuhkan sebuah negara. Oleh karena itu, negara ini perlu meningkatkan infrastruktur cyber dan sumber daya manusia (SDM) yang unggul sebagaimana menjadi prioritas pembangunan pemerintahan Jokowi periode kedua.

Tantangan lain berupa persaingan dagang antara negara-negara besar, seperti Amerika, China dan Negara-negara Eropa akan berdampak langsung terhadap ekonomi dalam negeri dan berpotensi mengganggu stabilitas keamanan dalam negeri. Misalnya, sawit Indonesia yang ditolak Uni Eropa atau perang dagang China-Amerika akan mengganggu stabilitas dalam negeri. TNI perlu mengantisipasi situasi yang mungkin muncul.

“Dua tantangan ini yang menurut saya tengah dijawab oleh TNI dibawah komando panglima Hadi Tjahjanto melalui kerja-kerja nyata namun senyap,” katanya. Komitmen Hadi Tjahjanto dalam menciptakan SDM unggul di lingkungan TNI sendiri sejalan dengan kapasitas panglima sebagai pribadi yang handal dan bertangan dingin dalam manajemen SDM. Perlu diketahui bahwa Hadi Tjahjanto memperoleh gelar doktor honoris causa (HC) Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta dalam bidang manajemen sumber daya manusia (SDM).

Simon menegaskan saat ini Kepercayaan publik terhadap TNI sebagai institusi negara masih tetap tinggi dibandingkan institusi lainnya. Survei LSI Denny JA September 2019 menyebutkan bahwa kepercayaan publik terhadap TNI masih di angka 89,0. Tertinggi di antara institusi negara lain seperti KPK dan MK.

Hal tersebut tidak terlepas dari kepemimpinan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto yang telah mampu membawa TNI melewati masa-masa sulit dengan kapasitas dan komitmen yang tinggi terutama pada Pemilu 2019 lalu, dimana TNI berhasil menunjukkan netralitas dan mampu menjaga stabilitas pertahanan dan keamanan.

“Keberhasilan TNI dalam mengemban fungsi sebagai penjaga pertahanan negara dan merupakan manifestasi penegak keutuhan kedaulatan NKRI dan berhasil mendukung suksesnya pelaksanaan demokrasi, merupakan prestasi yang patut dibanggakan,” ujarnya.

Secara kelembagaan, Panglima TNI berhasil menaikkan level sejumlah Komando Distrik Militer (Kodim) dari tipe B ke tipe A, yang diiringi dengan kenaikan pangkat Komandan Distrik Militer (Dandim) dari Letnan Kolonel ke Kolonel. Demikian juga pada sejumlah Komando Resor Militer (Danrem), dari tipe B ke tipe A dari pangkat Kolonel ke Brigjen, sesuatu yang sulit dicapai di masa lalu.

“Pembentukan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) terealisasi di bawah komando Hadi Tjahjanto. Struktur baru dibentuk untuk memperkuat koordinasi operasi TNI dalam mempertahankan wilayah Indonesia. Wacana pembentukan struktur baru ini sudah muncul sejak 2014,” tandasnya. Dengan kapasitas dan karakter Panglima TNI tersebut, visi yang sinkron dengan visi presiden, dan upaya-upaya untuk membangun sinergi dengan Polri adalah modal besar bagi bangsa ini untuk tetap menjaga keutuhan NKRI.