Oktober 25, 2020

Penyerangan KKB di Nduga Papua: Jimmy Diminta Mengaku Jadi TNI dan Dieksekusi

Kabarmandala.com – Setelah satu malam disekap tanpa diketahui akan dibunuh, 24 karyawan PT Istaka Karya dan 1 pegawai PUPR tiba di Puncak Kabo yang jaraknya 4 jam berjalan kali dari kamp tempat tinggal mereka di Kali Yigi-Kali Aurak, Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua.

Di Puncak Kabo, mereka dalam keadaan diikat dan diminta untuk berjongkok. Bahkan, beberapa di antara mereka harus menjalani syuting video untuk mengaku sebagai anggota TNI.

Menurut Jimmy Rajagukguk, salah satu korban selamat, saat itu ada tiga orang rekan mereka yang merasa ketakutan lantaran diancam untuk dibunuh dan terpaksa mengaku sebagai anggota TNI dari Kopassus, BIN, atau Bais.

Selain mengaku, kata Jimmy, ketiganya dipaksa untuk menenteng senjata laras panjang milik kelompok KKB sambil mengaku berasal dari anggota TNI.

“Jadi mereka membawa alat kamera untuk merekam. Ada tiga orang teman kami diminta mengaku sebagai anggota TNI yang berasal dari satuan Kopassus, BIN dan Bais. Saya secara pribadi tidak tahu maksud mereka. Di Puncak Kabo kami ketakutan, disiksa dan hanya bisa berdoa agar Tuhan melindungi kami,” kata Jimmy.

Tak lama dari perekaman video itu, ungkap Jimmy, mereka dijadikan satu dan ditembak dengan jarak kurang lebih 2 meter dengan menggunakan 6 pucuk senjata laras panjang dan 3 buah pistol.

“Saat itu, saya melihat mereka memiliki 6 pucuk senjata laras panjang dan 3 senjata laras pendek. Itu yang saya lihat. Tidak tahu apakah mereka masih memiliki senjata lain yang disembunyikan,” katanya.

“Senjata itu digunakan untuk menembak kami. Ada tari-tarian yang mereka lakukan. Lalu mereka menembak sambil mengelilingi dan menari. Saat itu, tembakan mereka jadi tidak terarah dan ada di antara kami yang tidak kena tembak, termasuk saya.

Namun, kami semua pura-pura mati,” tuturnya. Jimmy bercerita, usai para kelompok KKB menembak mereka secara brutal, kelompok itu meninggalkan mereka dengan menuju ke atas bukit.

Bahkan, tak jauh dari lokasi mereka, ada sebuah kayu yang ditancapkan dan sebuah tas noken yang ditinggalkan, yang diduga sebuah surat.

“Jadi, di dekat lokasi eksekusi, mereka menggali tanah dan menancapkan kayu. Di kayu itu ada sebuah surat yang mereka letakkan di sebuah tas noken. Kemudian mereka pergi meninggalkan kami begitu saja dengan naik ke bukit.

Mereka berpikir kami semua sudah mati,” tuturnya. Hanya selang beberapa menit, lanjut Jimmy, ada 11 korban selamat dari 25 orang yang ditembaki. Mereka selamat karena pura-pura mati. Mereka pun berusaha kabur untuk menyelamatkan diri.

Usaha menyelamatkan diri pun tak gampang, sebab Jimmy bersama 10 orang temannya terlihat oleh kelompok KKB masih hidup dan hendak menyelamatkan diri. Akhirnya, mereka pun dikejar dan beberapa tertangkap.

“Jadi dari 11 orang. Banyak di antara kami yang terluka tembakan di kaki dan di tangan. Lalu kami menyelamatkan diri masing-masing dengan arah yang berbeda.

Saya awalnya berlari bersama dua teman yaitu almarhum Efrandi P Hutagaol dan Rikki Kardo Simanjuntak (korban yang belum ditemukan),” katanya. “Saat itu, saya bersama Rikki lari paling belakang. Saat itu, teman Hutagaol dalam kondisi terluka tembakan di telapak kakinya sehingga tak bisa berlari kencang,” ungkap Jimmy.

Ia menambahkan, saat itu, lantaran kelompok KKB sudah tak lagi jauh dari lokasi mereka kabur, Rikki Rikardo Simanjuntak meninggalkannya bersama Efrandi Hutagaol.

“Jadi saat itu Rikki ketakutan dan meninggalkan saya bersama almarhum Hutagaol yang tak bisa berlari. Kemudian, almarhum meminta saya untuk meninggalkannya karena tak mampu berlari.

Saat itu saya pun dengan terpaksa meninggalkannya di sebuah semak-semak di pinggir jalan berjurang,” ujarnya sambil berkata terbata-bata lantaran mengenang kisah pelariannya yang terpaksa meninggalkan temannya. Akhirnya Jimmy Rajagukguk kabur seorang diri. Bagaimana kisah pelarian dirinya. Ikuti tulisan selanjutnya.