Oktober 26, 2020

Permintaan Kodam XVII/Cenderawasih agar Warga Bersedia Mengembalikan Senjata Api Milik Korban Helikopter MI-17

kabarmandala.com — Kodam XVII/Cenderawasih terus melakukan upaya pendekatan kepada warga yang ada di sekitar lokasi kecelakaan helicopter, agar secara sukarela bisa mengembalikan senjata api milik korban helicopter MI-17 yang sampai saat ini belum di temukan.

Dalam keterangannya, Pangdam XVII/Cenderawasih, Mayjen. TNI. Herman Asaribab mengatakan, dalam penerbangan naas tersebut, helikoper Mi-17 juga membawa senjata api dan amunisi yang merupakan milik dari kru helikoper dan personil Satgas Yonif 725 Woroagi, dan berdasarkan data yang ada, jumlah senjata api tersebut sebanyak 11 pucuk, baik itu laras panjang maupun laras pendek, serta 1 buah senjata pelontar granat – GLM.

Kata Pangdam, hingga saat ini pihaknya masih terus melakukan pendekatan kepada warga, sebab terdapat infomasi yang menyebutkan bahwa senjata api tersebut diamankan warga agar tidak jatuh ke tangan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, ataupun kelompok-kelompok yang ingin mengganggu stabilitas keamanan di wilayah pegunungan Papua.

“ketika tim melakan evakuasi jenazah memang senjata api sudah tidak ada, dan menurut informasi senjata api tersebut sedang diamankan warga, ini yang masih terus kita lakukan pendekatan, agar dalam waktu dekat bisa di kembalikan ke TNI, ada 11 pucuk senjat api yang masih hilang, 7 laras panjang SS-1, 3 laras pendek, dan 1 senjata pelontar granat, kita berharap agar dalam waktu dekat bisa dikembalikan”, ujar Mayjen. TNI. Herman Asaribab, Senin (17/02/2020).

Sementara itu, Kapolda Papua, Irjen. Pol. Paulus Waterpau mengatakan akan membantu semaksimal mungkin agar sejumlah barang yang masih dinyatakan hilang, seperti halnya senjata api agar bisa segera di kembalikan, dan melalui pendekatan aparat kepolisian yang bersentuhan langsung kepada masyarakat, serta melalui pendekatan sosio kultural, pihaknya berharap agar warga secara sukarela bisa mengembalikan senjata api tersebut, sehingga tidak di salah gunakan, ataupun jatuh ke tangan orang orang yang tidak memiliki hak dan kewenangan dalam memegang senjata api organik milik TNI maupun Polri.

“kita akan bantu dalam upaya pendekatan kepada masyarakt, agar senjata api tersebut bisa segera di kembalikan, sebab dalam undang undang sudah diatur siapa saja yang bisa memegang dan memiliki senjata api, pendekatan kultural akan kita kedepankan melalui aparat kepolisian yang ada di tengah mesyarakat”, kata Irjen. Pol. Paulus Waterpauw.

Sebelumnya, 12 orang prajurit TNI menjadi korban kecelakaan helikopter Mi-17 TNI AD, dengan nomor registrasi HA-5138, yang dinyatakan hilang kontak ketika terbang dari oksibil menuju Jayapura pada tanggal 28 juni 2019. Setelah di lakukan pencarian hingga berbulan bulan, akhirnya pada tanggal 10 februari lalu, lokasi titik kecelakaan helikopter Mi-17 berhasil di temukan, dan pelaksanaan evakuasi baru bisa di lakukan pada tanggal 15 februari lalu, namun sayang ketikan di lakukan evakuasi, tim tidak menemukan adanya satupun senjata api milik para korban.