November 30, 2020

Saat berkhutbah, banyak pesan yang disampaikan ketua MUI kepada masyarakat

kabarmandala.com — Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) PAPUA BARAT AHMAD NAUSRAU, SP.dI MM memberi pesan relegius kepada umat muslim dalam khotbahnya saat shalat Idul Adha 10 Dzulhijjah 1440 HIjriah pada Ahad 11 Agustus 2019 di Lapangan Borasi Manokwari, Papua Barat. Saat Ini Jutaan umat muslim tumpah ruah di Makkah, Arofah, Musdalifah dan Mina dengan berbagai corak, suku, bangsa, bahasa, budaya warna kulit melebur dan larut dalam balutan pakaiaan ihrom. Menurut Ketua MUI PB pakaiaan ihrom bermakna, bahwa segala kebesaran dunia yang menjadi kebanggan umat seperti, jabatan, harta gelar ataupun status sosial ditanggalkan. Atribut tersebut hanyalah asesoris tidak bermakna bagi hakekat umat sebagai manusia, hakekat kita sebagai hamba Allah SWT. Berkat kesuksesan mendidik itulah Nabi Ibrahim AS mendapatkan gelar sebagai bapak pendidik dalam sejarah kemanusian. Obsesi utama Nabi Ibrahim AS adalah anak seoleh dalam hal pendidikan. Dalam konteks kekinian, dunia pendidikan kita hari ini menyebutnya anak berkarakter, harapan ini menjadi satu salah satu doa Nabi Ibrahim yang sangat masyur utamanya bagi para pendidik, “Ya Tuhanku berilah aku keturunan yang soleh”.

Anak soleh yang menjadi harapan Nabi Ibrahim AS, adalah anak soleh yang lahir batin, anak yang baik dalam keluarga, bangsa dan agamannya. Dan puncaknya adalah anak yang membahagiaan kedua orang tuannya dunia dan ahirat. ‘Harapan atas kesolehan ini termaktub dalam doa yang lain Alquran yang artinya: “Dan orang-orang yang berkata ya Tuhan Kami anugrahkanlah kepada kami istri-istrik kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami dan jadikanlah kami Imam bagi orang-orang yang bertakwa” . Sebagaimana difahami, Istri pertama Nabi Ibrahim adalah Siti Sara yang walaupun sudah beberapa lama menikah dan hidup berkeluarga tidak kunjung memperoleh keturunan. Untuk itu, atas desakan Siti Sarah dan dengan harapan mendapatkan keturunan maka Nabi Ibrahim menikah dengan Siti Hajar, Siti hajar, wanita mulia, cantik dan penuh kesabaran dan keteragaran. Sebagai seorang istri, Siti Hajar begitu patuh kepada dan taat kepada suaminya Ia merupakan wanita pebnuh tawakal dengan beriman yang sunguh-sunguh kepad Allah SWT. Memilih istri yang soleha adalah merupakan prasyarat untuk melahirkan anak yang soleh.

Dengan pernikahan Nabi Ibrahim AS dengan Siti Hajar lahirlah Ismail anak yang telah didoakan berpuluh-puluh tahun lamanya. Kelahiran Ismail tentu menuntut tindakan nyata, bagaimana memilihara dan mendidiknya agar kelak tumbuh menjadi insan yang soleh berkarakter. Akhirnya Nabi Ibrahim AS merancang dan membangun sebuah pola pendidikan sebagaimana yang diabadikan Allah SWT dalam Alquran yang artinya: “ Ya Tuhan Kami,sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman-tanaman di dekat Rumah Engkau Baitulllah yang dihormati. Ya Tuhan Kami yang demikian itu agar mereka melaksanakan sholat maka jadikan hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezki dari buah-buahan mudah-mudahaan mereka berskur,”. Fasilitas yang serba ada akan menyebabkan potensi kecerdasan intelektual, spiritual dan fisikal anak tidak berkembang baik. Bahkan dengan keberdaan dengan fasilitas tersebut anak akan mengantungkan hidupnya kepada materi dan dari sinilah bibit matrialistik tumbuh menjadi budaya dan susah bagi kita untuk membayangkan proses pendidikan seperti bagi kita untuk membayangkan proses seperti ini akan melahirkan anak yang tanguh dan petarung untuk hadirnya kebaikan yang lebih besar .

Seorang anak harus dikondisikan, harus dibiasakan untuk akrab dengan masjid sejak usia dini. ‘’Bahkan Rasulullah SAW memberikan jaminan keimanan dan ahlak yang baik ketika sesorang terbiasa mendatangi masjid. “Apabila kalian melihat sesorang yang biasa ke masjid maka saksikanlah bahwa Ia adalah orang yang beriman,” kata Ketua MUI Papua Barat. Dengan fungsi masjid demikian besar seiyoganya orang tua dan guru mengarahkan anak-anaknya lebih banyak ke masjid. Ketika anak berada di rumah maka arahkan mereka mondar-mondari pergi masjid , dan ketika anak berada di sekolah maka mulailah kegiatan pagi dengan sholat duha dan tilawatilquran. Demikianpula halnya ketika waktu tiba sholat duha, ketika tiba waktu sholat wajib anak-anak harus digirng untuk shlat berjamaa di masjid dari proses itulah anak akan mendapatkan celupan spiritual kultur ibadah yang baik dan selanjut dari kemasjidan itu akan tumbuh karakter yang berbanding lurus dengan iman dan keilmuannya.

Apabila bisa menangkap doa ini, bahwa apapun kegiatannya harus mampu mengantar ke pada Allah SWT, inilah yang disebut pendidikan integral berbasis tauhid, bahwa apapun sekolahnya, disiplin ilmunya, metode pembelajaraannya semuanya harus terintegrasi dengan nilai-nilai ketauhidan. Indikator pendidikan berbasis tauhid dapat dilihat dengan pertumbuhan ahlak dan karakter anak, ketika anak naik kelas maka harus berbanding lurus dengan ibadah dan ahlaknya. ‘’Kita jangan langsung bangga dengan anak rengking kelas, juara olempiade, lulusan terbaik sementara ahlaknya belum dievaluasi,’’ Ketua MUI mencontohkan. Apalah artinya juara, rangkin, lulusan terbaik tetapi ahlak dan karakternya mengecewakan. Rasulollah SAW telah memberikan peringatan keras kepada kita utamanya pada orang tua bahwa anak yang pintar tapi tidak soleh berilmu tapi jauh dari Allah SWT.

Proses pendidikan pada ahirnya harus melalui ujian karakter dan kesolehan, karakter kesolehan paling mudah dapat dilihat dari ketaatan anak dalam beribadah dan beramal soleh. Demikianlah yang dihadapi Nabi Ibrahim AS bersama keluarganya, Ismail harus melewati proses uji kesolehan berupa lolalitas dan ketaatan kepad Allah SWT. Ketika Ismail anak sematawayang Siti Hajar beranjak jadi remaja yang akan menyenagkan kedua orangtuanya tiba-tiba datang perintah Allah SWT untuk menyembelihnya. “Maka ketika anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata yang artinya, wahai anaku, Aku bermimpi bahwa aku menyembelimu maka pertimbangkanlah apa pendapatmu,”. Hati siapa yang tidak tergoncang jika diperintahkan menyembelih anaknya sendiri, anak yang sering ditinggalkan demi perjuangan dakwa seorang ayah. Tetapi begitu Ia tumbuh menjadi pemuda yang tampan dan penuh harapan bagi keluarga tiba-tiba diperintahkan untuk disembelih lalu kita membayangkan perasaan dan hati seorang anak mana yang rela disembelih apalagi oleh ayahnya sendiri.

Menghadapi ujian yang lebih berat ini, Ibrahami dan putranya sama-sama tegar dan sabar menghadapi semua resiko yang kemungkinan akan menimpahnya, keimanan yang telah menhujam dalam jiwa Ibrahim membuat dirinya secara taat sempurna dalam melaksanakan perintah Allah SWT. Tidak ada keraguan dan kehawatiran dalam dirinya untuk melaksanakan perintah Allah SWT. Demikian tekadnya untuk melaksanakan perintah Allah SWT tersebut, tidak serta merta langsung dilaksanakan tanpa meminta persetujuan putranya Ismail AS, Ibrahim AS terlebih dahulu meminta pandagan Ismail atas perintah Allah SWT untuk menyembelih dirinya, dan kerana Ismail adalah seorang anak yang telah tercurahkan keimananya dalam pendidikan tauhid yang ditanamkan kedua orang tuanya, maka dengan penuh kerelaan tanpa keberatan sedikitpun Ismail memintah bapaknya Ibrahim AS untuk melaksanakan perintah Allah SWT tersebut.

Dari kisah ini terdapat pelajaran yang sangat penting betapa seorang ayah yang memiliki keyakinan atas kebenaran yang akan dilaksanakan terhadap anaknya tetapi kemudian ia meminta pandagan dengan anaknya tersebut. Sebagai ayah, Ibrahim tidak bertindak otoriter memaksakan apa yang Ia yakini benar, sebaliknya sebagai soerang ayah, Ibrahim berusaha menanamkan nilai pada anaknya pada putranya dengan dialogis. Sikap Nabiual Ibrahami AS adalah bentok demonstrasi ketundukan pada perintah Allah SWT, rasa sayang kepada anaknya terkalahkan oleh cinta dan ketaatannya pada kepada sang penciptanya.

Peristiwa penyembelihan Ismail kemudian disariatkan oleh Nabi Muhammad SAW dengan perintah berkurban, sesunguhnya mengandung banyak hikmah pendidikan dalam rumah tangga salah satu bentuk implementasinya, adalah orang tua harus mampu mengarahkan mencerahkan anaknya pada nilai-nilai ketauhidan, anak harus diantar untuk mengenal dan mencintai dan mentaati perintah Allah SWT dan pada saatnya yang bersamaan orang tua harus mampu mebunuh karakter dan prilaku anak yang tidak baik. Menyembelih anak bisa diterjemahkan menyembelih sifat-sifat buruk yang menghalangginya mengabdi dan mentaati Allah SWT. Sebagai orang tua jangan ragu-ragu untuk menyembeli anak kita sendiri dalam pengertian menghentikan mereka jika berprilaku salah stop anak-anak kalian jika mereka bergaul bebas laki-laki perempuan, stop anak-anak kalian jika mereka berpakaiaan tidak sopan melanggar sariah mengubar aurat, stop anak-anak kalian jika mereka sampai merokok, karena jika dibiarkan akan menjadi pintu masuk alcohol dan narkoba.

Dalam konteks kekinian anak-anak kita belajar dan menjadi pintar dengan bantuan teknologi tetai potensi resikonya juga tidak keciil saat salah memanfaatkannya. Anak yang bebas menggunakan HP tanpa pengawasan orang tua dan guru akan menjadi musibah bagi anak didik. Karena darisinilah mereka mulai asik dengan game, mulai mengenal pornografi, porno aksi bahkan dari sinilah mulai mengenal jaringan seks bebas. Allah SWT mengingatkan kita utamanya orang tua yang salah mendidik yang kemungkinannya anak itu menjadi fitnah bagi kedua orang tua. “Wahai orang-orang yang beriman sesunguhnya diantara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka perhatikianlah maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Anak kita adalah asset masa depan kita, disaat kita sudah menghadap Allah SWT merekalah yang bisa meminta ampunan kepada Allah SWT, disaat kita telah meninggal merekalah yang bisa mendoaakan kita, anak adalah surga dan neraka kita.