Oktober 21, 2020

Sekda Lany Jaya minta warga di pegunungan papua tidak mudah terprovokasi

kabarmandaala.com —┬áSekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Lanny Jaya, Provinsi Papua, Christian Sohilait mengatakan warga yang berdomisili di wilayah pegunungan tengah Papua diminta tidak termakan isu-isu yang tidak bertanggung jawab menyusul demonstrasi anarkis yang berujung kerusuhan di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Senin (23/9).

“Warga di wilayah pegunungan ini kita hanya dilemahkan dengan isu-isu yang tidak bertanggung jawab,” kata Christian Sohilait melalui telepon selulernya ketika dihubungi dari Jayapura, Senin malam.Ia mengatakan belakangan ini beredar isu yang menyebutkan di sana ada isu pemalangan, di sana ada isu kejar orang pendatang, di sana ada isu penyisiran, dan isu tersebut yang membuat semua orang ketakutan baik orang asli Papua maupun perantau.

“Saya selaku Sekda Lanny Jaya memberikan imbauan kepada seluruh warga di Lanny Jaya tapi juga diseluruh wilayah pegunungan Papua agar supaya jangan cepat termakan isu,” ujarnya. Christian mengatakan kalaupun ada isu-isu yang didengar bisa bertanya kepada pihak-pihak yang bisa memberikan klarifikasi. “Kita punya imbauan di Lanny Jaya sudah sampaikan lewat Asisten I Sekda Lanny Jaya dan juga lewat gereja-gereja bahwa situasi ini sudah mulai normal kembali,” ujarnya.

Pada Kamis (26/9) Asisten I Setda Lanny Jaya Leteren Yigibalom bersama beberapa kepala-kepala bidang mengelilingi Kota Tiom dan menyampaikan kepada warga yang berjualan di pasar, tukang ojek dan pasar mama-mama untuk memberikan imbauan keamanan. Dia menegaskan, tidak ada eksodus para perantau dan tiada ada penyerangan kepada warga asli Papua karena hal itu tidak benar.

“Informasi bahwa kawan-kawan dari luar akan masuk dan memporak-porandakan kota ini karena dari PBB dan lain-lain itu juga tidak benar. Karena itu saya pikir warga di Lanny Jaya tapi juga di wilayah pegunungan Papua kembali beraktivitas seperti biasa,” ujarnya.

Aksi unjuk rasa berujung kerusuhan di Wamena, pada Senin, 23 September 2019 itu menyebabkan 31 orang meninggal dunia, baik warga perantau maupun warga asli Papua.Pendemo juga merusak dan membakar ratusan bangunan milik pemerintah maupun swasta di daerah tersebut.