November 1, 2020

Sepanjang tahun 2019 konflik yang terjadi di Papua menewaskan 61 orang

kabarmandala.com — Sepanjang tahun 2019, korban jiwa akibat konflik dan aksi kekerasan di Papua mencapai 61 orang sepanjang tahun 2019. Korban meninggal tersebut akibat serangan KKSB OPM dan aksi unjuk rasa anarkis di sejumlah kabupaten dan kota di Provinsi Papua.

Data tersebut merupakan refleksi laporan akhir tahun yang disampaikan Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw di Mapolda Papua kepada para wartawan, Sabtu (28/12). Ia memaparkan, jumlah korban akibat unjuk rasa anarkis untuk memprotes rasisme di sejumlah kabupaten di Papua, antara lain Kabupaten Deiyai sebanyak 5 korban jiwa, Kota Jayapura 5 korban jiwa, dan Wamena, Kabupaten Jayawijaya sebanyak 31 orang.

Sementara korban luka akibat aksi unjuk rasa anarkis sebanyak 4 orang di Kabupaten Mimika, 21 orang di Kabupaten Deiyai, Kota Jayapura sebanyak 69 orang dan 70 orang di Wamena pada September lalu.

“Korban meninggal akibat serangan KKSB OPM meliputi 8 korban jiwa dari TNI, 2 korban jiwa dari Polri dan 10 korban jiwa adalah warga sipil. Sepanjang tahun 2019 terdapat 23 kasus KKB di wilayah hukum Polres Puncak Jaya, Polres Jayawijaya, Polres Mimika dan Polres Paniai,” katanya.

Kapolda Paulus Waterpauw menuturkan, akibat aksi unjuk rasa anarkis juga menyebabkan ribuan bangunan pemerintahan, rumah warga, kendaraan roda dua dan roda empat hangus terbakar serta dirusak massa. “Jumlah kerugian material terbanyak akibat aksi unjuk rasa anarkis terbanyak di Wamena, antara lain 465 unit ruko dibakar, 165 unit rumah dirusak dan dibakar serta 374 unit kendaraan bermotor dibakar massa, ” paparnya.