November 26, 2020

Sosok dibalik sukses Persipura kurun waktu 11 tahun terakhir

kabarmandala.com — Rudy Maswi dan Perjalanan Panjangnya Bersama Persipura. 26 tahun sudah Rudy Maswi berada di Persipura Jayapura. Dan 11 tahun terakhir dia memimpin tim sebagai manajer. Sepanjang waktu itu telah empat kali Persipura diantarkannya menjadi juara.

Rudy Maswi meninggalkan Gelora Delta, Sidoarjo, dengan senyuman. Dia jabat tangan siapa saja yang menyapa dan berpapasan dengan dirinya Minggu petang (22/12) lalu itu. Rudy seolah ingin menyampaikan terima kasih karena telah diterima dengan baik di Sidoarjo. Juga seperti ingin berterima kasih lantaran dukungan kepada Persipura sehingga bisa menutup kompetisi musim ini dengan manis.

Di awal musim, laju Mutiara Hitam -julukan Persipura- memang terseok-seok. Bahkan, saat memanggil kembali Jacksen F.Tiago untuk melatih Persipura, mereka masih berada di posisi 17. Sudah begitu, Boaz Solossa dkk harus memainkan laga kandangnya jauh dari Papua. Jauh dari Jayapura. Sempat bermain di Kutai Kartanegara, Persipura kemudian menetap di Gelora Delta. Perlahan tapi pasti, Persipura merangkak naik. Mereka akhirnya menutup kompetisi di peringkat ketiga.

Hasil akhir tersebut begitu melegakan Rudy. Karena itu pula, dia bisa tersenyum saat melangkah meninggalkan Gelora Delta, Minggu petang itu. Dan langkah Rudy petang tersebut bukanlah langkah terakhirnya bersama Persipura. ”Kadang-kadang memang ada rasa jenu juga. Tapi, sepak bola itu menyenangkan. Kalau musim depan masih diberi diminta lagi, tentu saya akan jalankan dengan sebaik mungkin,” katanya.

Sampai berakhirnya kompetisi Liga 1 musim 2019, Rudy tercatat sudah 11 tahun memimpin Persipura sebagai manajer tim. Waktu yang tentu tidak pendek. Pertautan pria berprofesi sebagai pengusaha itu sendiri sudah berjalan 26 tahun. Bermula dari 1993 silam. Atau saat dirinya dipercaya menjadi bendahara.

Setelah itu, selama tujuh tahun Rudy menduduki posisi asisten manajer sebelum akhirnya mulai 2008 didapuk sebagai manajer. ”Persipura ini tak ubahnya keluarga bagi saya. Karena itu, saya merasa senang berada di tengah-tengah tim ini. Di tengah anak-anak,” ujarnya. ”Apalagi, saat kecil saya senang bermain bola. Hanya saja tidak punya prestasi,” imbuhnya lantas tersenyum.

Rudy mengakui tidak pernah mudah memang memimpin Persipura. ”Susah-susah gampang. Karena, anak-anak ini kan kadang berbuat aneh-aneh. Tapi, karena saya sudah lama di tim ini, jadi semua yang saya kerjakan tetap enak saja. Anak-anak bisa memahami langkah saya,” paparnya.

Meski berasal dari Makassar, Rudy pun tak pernah merasa sebagai orang lain di Persipura. Semua komponen di Persipura, mulai pemain, pengurus, hingga suporter juga tak pernah memandangnya sebagai liyan. Jika Persipura sudah dianggapnya seperti keluarga sendiri, tanah Papua tak ubahnya kampung halamannya. Rudy sudah menjejakkan kaki di Papua sejak 1973. Tinggal dan membangun keluarga di Papua. Karena itu, setiap dipercaya memimpin Persipura, Rudy selalu bekerja maksimal. Bekerja untuk nama baik Jayapura dan Papua.

Dan hasil kerjanya pun benar-benar maksimal. Bersama Rudy, Persipura empat kali menahbiskan diri sebagai tim terbaik di kompetisi kasta tertinggi negeri ini. Persipura diantarkannya menjadi juara musim 2008/2009, 2010/2011, 2013, dan 2016. Rudy pun tercatat sebagai manajer tersukses di blantika sepak bola nasional. ”Itu semua bukan kerja saya. Itu kerja semua komponen di dalam tim ini. Yang jelas menyenangkan bekerja di Persipura. Semua berjalan satu komando,” ucapnya merendah.