Oktober 21, 2020

Surya Anta Ingin Segera Pindah tetapi Masih Ditahan di Sel Isolasi

kabarmandala.com — Juru Bicara Koalisi Masyarakat Sipil untuk Demokrasi, Suarbudaya Rahadian menyebut tersangka aktivis Papua Surya Anta sudah tidak tahan mendekam di ruang isolasi di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok. Suar membeberkan itu usai bertemu dengan Surya Anta di Mako Brimob.

Suarbudaya menjelaskan bahwa ada Lima mahasiswa Papua dan Surya Anta yang ditahan di Mako Brimob karena diduga terlibat kasus makar. Tak seperti lima mahasiswa, Surya Anta ditempatkan di sel berbeda. “Selnya memiliki teralis, sehingga bisa melihat ke lorong jalan. Kalau Surya itu, pintu besi tidak ada jendela, tidak ada apapun (hanya kasur lipat), hanya ventilasi kecil di atas tidak terlihat apapun,” ucap Suarbudaya di Mako Brimob, Depok, Jumat (20/9).

Suarbudaya, yang juga Pendeta Gereja Komunitas Anugerah Salemba, mengamini bahwa fisik Surya Anta dan lima mahasiswa lainnya dalam keadaan sehat. Tetapi tidak dengan psikis. Suarbudaya menyebut Surya Anta benar-benar sudah tak ingin ditahan di ruang isolasi tersebut. “Dari percakapan kami secara umum, yaitu (keadaan) depresi. Bahkan Surya bilang ‘saya mau segera dipindahkan dari ruang isolasi, sudah tidak tahan. tolong bantu saya’,” kata ucap Suarbudaya.

Pada 5 September lalu, Suarbudaya juga sudah membeberkan tentang kondisi yang dialami Surya Anta. Dia mengatakan juru bicara Juru Bicara Front Rakyat Indonesia untuk West Papua itu ditahan di ruang isolasi. Bahkan, lagu-lagu kebangsaan juga diputar sepanjang hari di sel yang ditempati Surya Anta. Kabid Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Argo Yuwono lalu membantah itu dengan mengatakan Kepolisian tak punya sel isolasi.

Di tempat yang sama, kuasa hukum Surya Anta, Michael Himan meminta agar kliennya dan para mahasiswa Papua dipindahkan dari Mako Brimob ke rutan Polda Metro Jaya. Itu dinilai perlu demi kemudahan bertemu para tahanan. “Ke Polda Metro Jaya, agar kami bebas setiap pengacara maupun keluarga bisa masuk besuknya dengan bebas,” kata Michael Himan kepada wartawan di Mako Brimob, Depok, Jumat (20/9).

Himan mengklaim selama ini sulit bertemu dengan para mahasiswa. Jika sudah mendapat kesempatan, waktu yang diberikan pun cenderung sedikit. Terlebih, lanjutnya, pengacara hanya boleh bertemu pada hari yang sama dengan kunjungan keluarga, yakni Selasa dan Jumat. Tidak boleh di hari yang lain. Walhasil, waktu untuk melakukan kerja-kerja advokasi dan pendampingan hukum untuk para mahasiswa menjadi sangat terbatas.

“Walaupun akses ada, tapi untuk hanya 2-3 orang yang dipersilahkan pengacara untuk masuk bersama keluarga. sedangkan kami mau wawancarai ada enam orang. Bagaimana kami punya pertanyaan banyak, kemudian waktunya sudah habis,” jelasnya.ebelumnya, tim pengacara dan keluarga serta pemuka agama mendatangi Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok pada hari ini Jumat (20/9).  Mereka, yang terdiri dari 13 orang, ingin menemui 5 mahasiswa Papua serta aktivis Papua Surya Anta. Suarbudaya juga mengaku berencana melaksanakan ibadah di dalam rutan.

Para tamu itu harus melalui pengawasan ketat untuk bisa masuk ke rutan. Seluruh barang bawaan yang dibawa diperiksa petugas. Termasuk kitab suci dan beberapa makanan yang dikemas dalam plastik. Mengenai penahanan Surya Anta dan mahasiswa Papua di Mako Brimob, Argo mengatakan bahwa mereka menempati sel yang bagus. Bahkan lebih bagus dari yang ada di Polda Metro Jaya. Sementara soal pengacara sulit bertemu para tahanan, Argo mengatakan dugaan pelanggaran itu tengah diperiksa oleh Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas).