Desember 1, 2020

Temuan Produk Bermasalah di Papua Turun Drastis karena Masyarakat sudah Pintar

kabarmandala.com — Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) di Jayapura mengklaim temuan produk bermasalah yang tidak memenuhi ketentuan di wilayah Papua mengalami penurunan drastis lebih dari 50 persen pada 2019.

Total 45.464 kemasan produk senilai Rp350 juta hasil pengawasan di Papua pada tahun 2019. Sementara tahun 2018, BBPOM di Jayapura menyita produk tidak memenuhi ketentuan senilai Rp1 miliar lebih. Kepala BBPOM di Jayapura, H.G. Kakerissa menyebut, penurunan temuan produk bernasalah di Papua dipengaruhi beberapa faktor. Misalnya, edukasi yang dilakukan BBPOM terhadap masyarakat.

“Temuan produk turun ini menunjukan pengawasan berhasil. Semua yang produk yang diamankan menunjukan masyarakat sudah pintar untuk melindungi dirinya,” kata Kakerissa disela-sela pemusnahan produk bermasalah, Jumat (20/12).

Dia mengaku sebagian besar produk temuan telah dimusnahkan di daerah. Pemusnahan dilakukan oleh pelaku usaha itu sendiri. “Produk tidak bisa kami bawa ke BBPOM, karena wilayah yang jauh. Misalnya di Oksibil, Pegunungan Bintang maupun Kabupaten Tolikara,” terangnya.

Menurut Kakerissa, produk kedaluwarsa tidak memberikan efek langsung bagi penggunanya. Efek produk akan timbul dalam jangka panjang. “Efeknya lama, pengguna bisa mengalami gagal ginjal, benjolan di kepala hingga kanker,” bebernya.

Dia mencontohkan dua kasus di Timika, yakni penjualan obat yang tidak sesuai dengan ketentuan. Obat-obatan yang dibeli secara daring ini menimbulkan penurunan berat badan yang sangat drastis. “Dia sudah kurus banget, kita pikir terkena penyakit Aids, namun ternyata mengkonsumsi obat-obatan yang dibeli secara online (daring),” terangnya.

BBPOM sendiri telah menindaklanjuti temuan ini bersama Polda Papua untuk menangkap kelompok pengguna obatan-obatan di Timika. Dia menduga penggunaan obat-obatan sebagai pengganti narkoba. “Memang dampak dari obatan-obatan itu menurunkan nafsu makan, paling hanya minum sekadar halusinasi. Menurut saya, itu pengganti narkoba, karena sudah mendapatkan narkoba,” turunya.

Kanit 1 Subdit 1 Indagsi Direskrimsus Polda Papua, AKP Komang Yustrio W.K mengemukakan, pemahaman aturan di masyarakat tentang peredaran kosmetik masih sangat minim. Hal ini menjadi pertimbangan penyidik melakukan penegakan hukum. Modusnya, lanjut Komang, para pelaku kerap memanfaatkan media sosial, baik facebook, instagram maupun jejaringan sosial lainnya. Rata-rata produk yang ditawarkan berbagai jenis kosmetik.

“Barang bukti yang kami temukan berbagai macam kosmetik yang jumlahnya mencapai 80 jenis dengan jumlah yang bervariasi,” bebernya.