Maret 3, 2021

Waanal Coffee and Resto Tolak Rasisme, Saksikan Live Musik dan Kesaksian Hidup Elfrida Natkime yang jadikan Hinaan Sebagai Motivasi Raih Prestasi

kabarmandala.com — Menyikapi kondisi kekinian yang dialami masyarakat asli Papua, maka pada Sabtu (24/8) malam akan digelar live musik dengan tema Waanal Coffee and Resto tolak Rasisme. Penanggung Jawab Waanal Coffee and Resto Timika, Randy Manurung mengatakan, melalui acara live musik ini, semua pengunjung tidak hanya dihibur, tapi juga diingatkan tentang Indonesia yang bhineka tunggal ika, yang berbeda-beda suku, bahasa, agama, warna kulit, jenis rambut dan lain-lain, tapi kita semua adalah satu, satu Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Karena itu adanya penghinaan bersifat rasisme terhadap adik-adik mahasiswa Papua di Jatim, Jateng dan Jabar sama dengan penyangkalan terhadap kebhinekaan yang ada, sama dengan mau memecahan keutuhan NKRI yang semestinya tidak perlu terjadi,” kata Randy kepada Salam Papua, Sabtu (24/8). Dijelaskan, melalui live musik tolak rasisme, semua pengunjung, juga masyarakat Papua dan Indonesia pada umumnya diajak itu menghargai dan menjungjung tinggi perbedaan yang ada sebagai sebuah kondrat Tuhan.

“Mari jadikan perbedaan yang ada sebagai satu kekuatan untuk membangun bangsa ini. Bukan sebaliknya. Jadikan perbedaan itu sebagai sesuatu yang indah dalam merajut kebersamaan dan persatuan bangsa, bukan sebaliknya. Mari jadikan perbedaan itu sebagai sesuatu yang indah untuk dinikmati hersama, bukan sesuatu yang buruk yang merusak kebersamaan dan persatuan,” ujar Randy. Berkaitan dengan itu, dalam acara live musik tersebut, Waanal Coffee and Resto juga akan menampilkan sejumlah mahasiswa asli Papua yang study di Jawa dan daerah lain di Indonesia yang pernah mengalami dan merasakan langsung penghinaan berbau rasisme itu.

“Para mahasiswa ini adalah saksi hidup, mengalami dan merasakan secara langsung penghinaan berbau rasisme itu. Ini sesuatu yang nyata terjadi, yang sudah pasti ditolak dengan cara sendiri. Salah satunya dengan cara menjadikan penghinaan sebagai motivasi untuk meraih prestasi, membuktikan orang yang dhina jauh lebih baik dari yang menghina. Walau demikian, kita semua harus tetap tolak penghinaan berbau rasisme dalam bentuk apa pun dan kepada siapa pun tidak boleh terjadi di negara ini,” tegas Randy.

Menurur Randy, beberapa mahasiswa yang study di Jawa yang akan menyampaikan testemoni atau kesaksian hidup terkait penghinaan berbau rasisme yang dialami langsung adalah Elfrida Natkime, putri dari alm. Silas Natkime yang selama ini mengenyam pendidikan di Bandung Jawa Barat. Selain Elfrida ada juga kesaksian dari beberapa mahasiswa lainnya.

“Apa bentuknya dan bagaimana cara Elfrida Natkime menyikapi penghinaan itu, dari tantangan menjadi peluang dan motivasi untuk meraih prestasi, mari saksikan secara langsung kesaksiannya di Waanal Coffee and Resto malam ini mulai pukul 19.00 WIT,” kata Randy.

“Mari kita semua tolak aksi rasisme di negara ini. Mari mulai dari diri sendiri, dengan saling menghargai dan menghormati satu sama lain sebagai insan ciptaan Tuhan. Mari menjaga dan merawat bhineka tunggal ika di negara ini. Mari jadikan perbedaan yang ada sebagai satu kekuatan yang indah untuk membangun daerah dan NKRI,” kata Randy.