Juli 26, 2021

Menolak Lupa Aksi Kekejaman Kelompok Teroris Papua

Kabarmandala.com – Tentu ingatan kita masih jelas terasa pada tanggal 2 desember 2018 tentang aksi pelanggaran HAM berat yang dilakukan KST di Papua. Dimana berdasarkan Kepala Bidang Humas Polda Papua, sebanyak 31 orang meregang nyawa karena akibat aksi kekejaman yg dilakukan KST pada saat itu.

KST sesungguhnya tidak berjuang atas masyarakat Papua. Mereka hanya segelintir orang yang mengaku memperjuangkan masyarakt Papua namun malah menyengsarakan masyarakat Papua.

Papua yang damai selalu dibuat menjadi daerah yang penuh ancaman dan kekacauan yang memiliki tujuan yang ingin menggerogoti kedamaian di Papua.

KST sendiri sudah lama menjadi organisasi separatis dan bahkan telah berusaha melepaskan diri dari Indonesia semenjak masa pemerintahan Republik Indonesia, tapi bukan hanya tentang itu, melainkan lebih kepada ancaman dan aksi kekejaman yang telah ditorehkan oleh kelompok tersebut.

KST begitu piawai menyembunyikan watak separatismenya. Kepada masyarakat luas dengan menggunakan media sosial dan media pemberitaan lokal dan internasional, KST selalu berdalih perjuangan semata demi menegakan keadilan di Papua.

Selama ini KST telah banyak menebar berita bohong atau hoax untuk memperoleh simpati masyarakat Papua dan Internasional dengan mengeksploitasi pelanggaran HAM di Papua. Fakta yang terjadi KST lah yang melakukan pelanggaran HAM berat selama ini.

Tidak hanya menyebar berita bohong atau hoax. Kelompok teroris di Papua juga menggandeng pendukungnya untuk menyebarkan informasi sesat.

Para pendukung KST biasanya menutup mata atas aksi kekejaman KST . mereka kerap mengabaikan berbagai aksi terror yang membuat masyarakat menjadi korban. Apabila teroris membakar sekolah, membunuh guru dan membuat terror lain, maka pendukung mereka tidak akan berkomentar apapun.

Jika selama ini KST berjuang untuk memisahkan Papua dari NKRI. Aksi tersbut hanya membuat masyarakat takut karena pada kenyataannya rakyat sipil menjadi korban.

KST juga terbukti tidak sejalan dengan ideologi Pancasila, mereka telah terbukti berani menyerang sesama warga Papua dan melakukan pembantaian rasisme suku hanya karena tidak sesuai dengan pemikiran KST terkait pembebasan atau referendum.

Kekejaman yang dilakukan oleh KST  juga  sudah kelewat batas, sehingga aparat keamanan perlu memberikan tindakan tegas jika KST kembali berulah melakukan pelanggaran HAM berat.

Kita patut bertanya mengenai kenetralan para aktivis HAM untuk mengungkap semua pelanggaran HAM berat selama ini yang dilakukan KST.

Karena suara pesimis terhadap penyelesaian kasus pelanggaran HAM berat yang dilakukan KST sudah makin nyaring terdengar.

Jika kasus-kasus pelanggaran HAM yang dilakukan KST dibiarkan, maka yang rugti bukan hanya masyarakat , melainkan bangsa ini sendiri.